Lima Guru Dianugerahi Satya Lencana Pendidikan

Desember 2, 2011 Tinggalkan komentar
GambarHari Guru 2011
Lima Guru Dianugerahi Satya Lencana Pendidikan
Indra Akuntono | Inggried Dwi Wedhaswary | Rabu, 30 November 2011 | 09:21 WIB
Kompas/Ferganata Indra Riatmoko Ilustrasi
 

BOGOR, KOMPAS.com – Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono akan menganugerahi  tanda kehormatan Satya Llencana Pendidikan kepada lima orang guru dan kepala sekolah berprestasi serta berdedikasi luar biasa dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Tanda kehormatan tersebut diberikan secara resmi pada puncak peringatan Hari Guru Nasional 2011, dan HUT PGRI ke 66, Rabu (30/11/2011), di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat.

Anugerah Satya Lencana diberikan atas dharma bakti pendidik dan tenaga kependidikan, pendidikan formal dan nonformal dengan masa bakti minimal 8 tahun.

Adapun, kelima guru dan kepala sekolah yang menerima anugerah tersebut adalah Abdul Hajar (SMAN 3 Makassar), Herfen Suryati (YPVDP Bontang), Imron Rosidi (SMKN 2 Pasuruan), Mustafa (SMKN 4 Makassar), dan Akib Ibrahim (Kepala SMKN 1 Pacet, Cianjur).

Selain dihadiri oleh Presiden RI beserta ibu negara, puncak peringatan Hari Guru Nasional 2011 dan HUT PGRI ke 66 ini juga dihadiri para ketua lembaga tinggi negara, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh, dan. Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, Ketua Pengurus Besar PGRI, Sulistyo, dan sekitar 4500 guru dari provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Hari Guru diperingati setiap tanggal 25 November. Tema peringatan Hari Guru tahun ini adalah “Meningkatkan Peran Strategis Guru untuk Membangun Karakter Bangsa” dengan sub tema “Peningkatan Kinerja Guru untuk Pendidikan Bermutu”, bertujuan meningkatkan kesadaran dan komitmen guru terhadap budaya mutu di kalangan guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selain itu, tema tersebut juga bermaksud meneladani semangat dan dedikasi guru sebagai pensisik profesional dan bermartabat bagi semua anak bangsa dalam meningkatkan sumber daya manusia yang bermutu, serta meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya kedudukan dan peran strategis guru dalam membangun pendidikan karakter bangsa yang cerdas, komprehensif, dan bermartabat.

Selain diselenggaralan di tingkat nasional, hari guru juga akan diperingati di berbagai daerah. Antara lain di isi dengan kegiatan forum ilmiah guru, seminar peningkatan profesionalisme guru, dan lain sebagainya.

EDY_9656

Desember 2, 2011 Tinggalkan komentar

EDY_9656

Categories: Jerman - Deutschland

Catatan tentang Metode Penelitian 2

September 6, 2011 1 komentar

Sumber : http://salangketo.blogspot.com/2011/08/catatan-tentang-metode-penelitian-2.html

Catatan tentang Metode Penelitian 2
TELAAH KRITIS TENTANG MODEL PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Oleh Andi Agustang

II. KARAKTERISTIK PENELITIAN
Penelitian kualitatif memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dengan penelitian jenis lainnya. Dari hasil penelaahan kepustakaan ditemukan bahwa Boghan dan biklen (1982-27-30) mengajukan lima buah ciri, sedang Licholn dan Guba (1983) mengulas sepuluh buah ciri penelitian kualitatif. Uraian di bawah ini merupakan hasil pengkajian dan sintesis kedua versi tersebut, yaitu :

1. Latar Alamiah
Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (entity). Hal ini dilakukan, menurut Licholn dan Guba (1985:39), karena ontologi alamiah menghendaki adanya kenyataan-kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya. Menurut mereka hal tersebut didasarkan atas beberapa asumsi :

Tindakan pengamatan mempengaruhi apa yang dilihat, karena itu hubungan penelitian harus mengambil tempat pada keutuhan-dalam konteks untuk keperluan pengamatan.
Konteks sangat menetukan dalam menetapkan apakah suatu penemuan mempunyai arti bagi konteks lainnya, yang berarti bahwa suatu fenomena harus diteliti dalam keseluruhan pengaruh lapangan; dan
Sebagian struktur nilai kontestual bersifat determinatif terhadap apa yang akan dicari.

2. Manusia Sebagai Instrumen
Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. Hal itu dilakukan karena, jika memanfaatkan alat yang bukan-manusia dan mempersiapkannya terlebih dahulu sebagai lajim digunakan dalam penelitian klasik, maka sangat tidak mungkin untuk mengadakan penyeseuaian terhadap kenyataan-kenyataan di lapangan. Hanya manusia sebagai insrumen pulalah yang dapat menilai apakah kehadirannya menjadi faktor pengganggu sehingga apabila terjadi hal yang demikian ia pasti dapat menyadarinya serta dapat mengatasinya.

3. Metode Kualitatif
Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan, yaitu :

Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan-ganda;
Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden; dan
Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.

4. Analisis Data Secara Induktif
Dengan menggunakan analisis secara induktif, berarti bahwa pencarian data bukan dimaksudkan untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan sebelum penelitian diadakan. Analisis ini lebih merupakan pembentukan abstraksi berdasarkan bagian-bagian yang telah dikumpulkan, kemudian dikelompok-kelompokkan. Jadi penyusunan teori di sini berasal dari bawah ke atas, yaitu dari sejumlah bagian yang banyak data yang dukumpulkan dan yang saling berhubungan.
Jika peneliti merencanakan untuk menyusun teori, arah penyusunan teori tersebut akan menjadi jelas sesudah data dikumpulkan. Jadi peneliti dalam hal ini menyusun atau membuat gambaran yang makin menjadi jelas sementara data dikumpulkan dan bagian-bagiannya diuji. Dalam hal ini peneliti tidak berasumsi bahwa sudah cukup yang diketahui untuk memahami bagian-bagian penting sebelum mengadakan penelitian.

5. Deskriptif
Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudahditeliti.
Pada penulisan laporan, peneliti menganalisis data yang sangat kaya tersebut dan sejauh mungkin dalam bentuk aslinya. Hal itu hendaknya dilakukan seperti orang merajut sehingga setiao bagian telaah satu demi satu. Pertanyaan dengan kata lain “mengapa” , “alasan apa” dan “bagaimana terjadinya” akan senantiasa dimanfaatkan oleh peneliti.

6. Lebih Mementingkan Proses daripada Hasil
Penelitian kualitatif lebih banyak mementingkan segi “proses” daripada “hasil”. Hal ini disebabkan oleh hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses. Bogdan dan Biklen (1982:29) memberikan contoh seorang peneliti mengamatinya dalam hubungan sehari-hari, kemudian menjelaskan tentang sikap yang diteliti. Dengan kata lain, peranan proses dalam penelitian kualitatif besar sekali.

7. Adanya “Batas” yang ditentukan oleh “Fokus”
Penelitian kualitatif menghendaki ditetapkannya batas dalam penelitiannya atas dasar fokus (identifikasi masalah) yang timbul sebagai masalah dalam penelitian. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :

Pertama,batas menentukan kenyataan ganda yang kemudian mempertajam fokus
Kedua, penetapan fokus dapat lebih dekat dihubungkan oleh interaksi antara peneliti dan fokus. Dapat lebih dekat di hubungkan oleh interaksi antara peneliti dan fokus. Dengan kata lain, bagaimana pun, penetapan fokus sebagai masalah penelitian artinya dalam usaha menemukan batas penelitian. Dengan hal itu dapatlah peneliti menemukan lokasi penelitian.

8. Adanya Kriteria Khusus untuk Keabsahan Data
Penelitian kualitaif meredifinisikan validitas, reliabilitas, dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan lazim digunakan dalam penelitian klasik. Menurut Licoln dan Guba (198~:43) hal itu disebabkan hal-hal sebagai berikut :

Pertama oleh validitas internal cara lama telah gagal karena hal itu menggunakan isomorfisme antara hasil penelitian dan kenyataan tunggal dimana penelitian dapat dikonvergasikan.
Kedua, validitas eksternal gagal karena tidak taat asas dengan aksioma (satu perangkat kepercayaan yang didasarkan atas asumsi-asumsi tertentu yang sudah terbentuk dalam diri peneliti) dasar dari generalisasinya;
Ketiga, kriteria reabilitas ggal karena mempersyaratkan stabilitas dan keterlakasnaan secara mutlak dan keduanya tidakmungkin digunakan dalam paradigma yang didasarkan atas desain yang dapat berubah-ubah.
Keempat, kriteria objektivitas gagal karena penelitian kuantitatif justru memberi kesempatan interaksi antara peneliti-responden dan peranan nilai.

9. Desain yang bersifat Sementara /temporal
Penelitian kualitatif desain yang secara terus-menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan. Jadi, tidak menggunakan desain yang telah disusun secara ketat dan kaku sehingg tidak dapat diubah lagi. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :

Pertama, tidak dapat dibayangkan sebelumnya tentang kenyataan-kenyataan ganda di lapangan;
Kedua, tidak dapat diramalkan sebelumnya apa yang akan berubah karena hal itu akan terjadi dalam interaksi antara peneliti dengan kenyataan;
Ketiga, bermacam sistem nilai terkait berhubungan dengan cara yang tidak dapat diramalkan.

10. Hasil Penelitian Dirundingkan dan Disepakati Bersama
Penelitian kualitatif lebih menghendaki agar penelitian agar pengertian dari hasil interprestasi yang diperoleh dirundingkan data dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sebagai sumber data. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal , sebagai berikut:

Pertama,susunan kenyataan dari merekalah yang akan diangkat oleh peneliti
Kedua, hasil penelitian bergantung pada hakikat dan kualitas hubungan antara pencari dengan yang dicari
Ketiga, konfirmasi hipotesis, kerja akan menjadi lebih baik verifikasinya apabila diketahui dan dikonfirmasikan oleh orang-orang yang ada kaitannya dengan yang diteliti.

Sumber : http://salangketo.blogspot.com/2011/08/catatan-tentang-metode-penelitian-2.html

Categories: Metode Penelitian

TELAAH KRITIS TENTANG MODEL PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF

September 6, 2011 Tinggalkan komentar

Sumber http://salangketo.blogspot.com/2011/08/catatan-tentang-metode-penelitian-1.html

Catatan tentang Metode Penelitian 1
TELAAH KRITIS TENTANG MODEL PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Oleh Andi Agustang

IV. Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif

Perbedaaan antara penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Guba dan Lincoln (1981: 62-82) menyajikan uraian yang cukup penjang dn mempertentangkan perbedaan peradigma kedua penelitian ini. Untuk Penelitian kuantitatif digunakan scientific paradigm (paradigma ilmiah), sedangkan penelitian kualitatif dinamakan naturalistic inquiry atau inkuiri alamiah. Adapun perbedaannya meliputi:

1. Teknik yang digunakan

Pada dasarnya, baik teknik kuantitaitif maupun teknik kualitatif dapat digunakan bersama-sama . Namun, penekanannya diletakkan pada teknik tertentu. Paradigma ilmiah memberi tekanan pada teknik kuantitatif, sedangkan paradigma alamiah memberi tekanan pada penggunaan teknik kualitatif.

2. Kriteria Kualitatif

Dalam menentukan penelitian yang “baik”, paradigma ilmiah sangat percaya pada kriteria Rigor, yaitu kesahihan eksternal dan internal, keandalan, dan objektivitas. Pada dasarnya, menurut Guba dan Lincoln (1981:66), penekanan pada kriteria tersebut terang membawa eksperimen pada penyusunan desain yang bagus, tetapi sering sempit cakupannya. Hal ini bersumber pada kenyataan bahwa kebanyakan eksperimen memasukkan situasi yang kurang dikenal, buatan, dan masa hidupnya singkat, dan hal itu membuat latar-tak-biasa sukar digeneralisasikan pada latar lainnya.

Sebaliknya, paradigma alamiah menggunakan kriteria relevansi. Relevansi di sini adalah signifikansi dari pribadi terhadap lingkungan kenyataannya. Usaha menemukan kepastian dan keaslian merupakan hal yang penting dalam penelitian alamiah.

3. Sumber Teori

Sebagian besar pengetahuan tentang perilaku sosial diarahkan pada verifikasi hipotesis yang diturunkan dari teori apriori. Kebanyakan teori yang disusun pada hakikatnya adalah deduktif dan logis dalam pengetahuan perilaku sosial. Proses penyusunan teori berputar-putar pada proses deduksi yang bisa diverifikasikan dari dunia nyata atas dasar asumsi apriori.

Cara lainnya yang lebih bermanfaat adalah menemukan teori dengan cara menariknya sejak awal dari alam, yaitu dari data yang berasal dari dunia nyata. Metode yang digunakan adalah metode menemukan dengan menganalisis data yang diperoleh secara sistematis. Penyusunan teorinya dimulai dari dasar. Teori demikian akan cocok dengan situasi empiris dan penting untuk meramalkan, menerangkan, menafsirkan, dan mengaplikasikan. Jadi, teori ini memenuhi dua kriteria, yaitu meramalkan, menerangkan, dan menafsirkan.

4. Pertanyaan tentang Kuasalitas

Penelitian biasanya dihadapkan pada penentuan hubungan sebab-akibat jawaban terhadap pertanyaan hubungan sebab-akibat penting untuk keperluan meramalkan, kontrol di satu pihak, dan verstehan (pengertian interpretatif menganai manusia) di lain pihak. Kedua paradigma ilmiah maupun alamiah menggunakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun dengan cara yang berbeda.

5. Tipe Pengetahuan yang digunakan
Ada dua macam atau tipe pengetahuan ; yaitu :

· Pengatahuan proposisional dan
· Pengatahuan-yang – diketahui – bersama yang diketahui dan disepakati juga oleh subjek.

Kedua tipe pengetahuan tesebut dapat dijelaskan perbedaannya pengetahuan proporsional adalah pengetahuan yang dapat dinyatakan dalam bentuk bahasa. Pengetahuan-yang-diketahui-bersama (tacit knowledge) ialah instuisi, pemahaman, atau perasaan yang tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata yang dalam hal-hal tertentu diketahui oleh subjek.

Paradigma ilmiah membatasi diri pada pengetahuan demikian merupakan esensi metode untuk menyatakan proporsi secara eksplisit dalam bentuk hipotesis yang diuji untuk menentukan validitasnya. Teori-teori terdiri atas pengumpulan hipotesis semacam itu.

Sebaiknya, paradigma alamiah mengizinkan dan mendorong pengetahuan yang diketahui bersama guna dimunculkan untuk keperluan membantu pembentukan teori dari dasar maupun untuk memperbaiki komunikasi kembali kepada sumber informasi dengan cara peristilahan mereka.

6. Pendirian

Paradigma ilmiah berpendirian reduksionis. Dalam hal ini mereka menyempitkan penelitian pada fokus yang relatif kecil dengan jalan membebankan kendala-kendala baik pada kondisi anteseden pada inkuiri (untuk keperluan mengontrol) maupun pada keluaran-keluaran.

Jadi pencari-tahu-ilmiah mempunyai pendirian ekspansionis. Mereka mencari perspektif yang akan mengarahkan pada deskripsi dan pengertian fenomena sebagai keseluruhan atau akhirnya dengan jalan menemukan sesuatu yang mencerminkan kerumitan gejala-gejala itu. Mereka memasuki lapangan, membangun dan melihat pembawaannya yang tanpa dari arah manapun titik masuknya. Setiap langkah inkuiri didasarkan atas sejumlah pengetahuan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Jadi pencari-tahu-ilmiah mengambil sikap sruktur, terarah, dan tunggal, sedangkan pencari-tahu-alamiah berpendirian terbuka, menjajagi, dan kompleks.

7. Maksud

Paradigma ilmiah mempunyai maksud dalam usahanya menemukan pengetahuan melalui verifikasi hipotesis yang dispesifikasikan secara apriori. pencari-tahu-ilmiah, dipihak lain. Meninikberatkan upayanya pada usaha menemukan unsur-unsur atau pengetahuan yang belum ada dalam teori yang berlaku.

8. Instrumen

Untuk mengumpulkan data, paradigma ilmiah memanfaatkan tes tertulis (tes-pinsil-kertas) atau kuesioner atau menggunakan alat fisik lainnya seperti poligraf, dan sebagainya. Pencari-tahu-ilmiah dalam pengumpulan data lebih banyak bergantung pada dirinya sebagai alat pengumpulan data. Hal itu mungkin disebabkan oleh sukarnya mengkhususkan secara tepat pada apa yang akan diteliti. Di samping itu, orang-sebagai-instrumen memiliki senjata “dapat-memutuskan”, yang secara luwes dapat digunakannya. Ia senantiasa dapat menilai keadaan dan dapat mengambil keputusan.

9. Waktu untuk Mengumpulkan Data dan Aturan Analisis

Pencari-tahu-ilmiah dapat menetapkan semua aturan pengumpulan dan analisis data sebelumnya. Mereka sudah mengatahui hipotesis yang akan diuji dan dapat mengembangkan instrumen yang cocok dengan variabel. Instrumen ditetapkan sebelumnya tentang ukuran terhadap ciri yang diketahui sehingga memungkinkan waktu melakukan analisis.

Paradigma alamiah sebaliknya, tidak diperkenalkan memformulasikan secara apriori. Datanya dikumpulkan serta dikategorisasi kan dalam bentuk kasar dan diunitkan oleh peneliti/analisis. Di samping itu, pencari-tahu-ilmiah kurang bimbing oleh aturan dibandingkan dengan paradigma ilmiah. Tentu saja langkah-langkah tertentu perlu diambil untuk memastikan adanya aturan yang tidak ambigius (meragukan) dan ditetapkan secara sistematisdan seragam. Teknik demikian bermanfaat dalam hal dapat membangun atas dasar pengetahuan yang muncul.

Bagi paradigma alamiah, desain dapat disusun sebelumnya secara tidak lengkap. Apabila sudah mulai digunakan, maka desain itu lamah mulai dilengkapi dan disempurnakan. Dsain itu dapat senantiasa diubah dengan disesuaikan dengan apa yang diperoleh dan disesuaikan pula dengan pengetahuan baru yang ditemukan.

10. Latar

Pencari-tahu-ilmiah bersandar pada latar laboratorium untuk keperluan mengadakan kontrol, mengelola intervensi, dan sebagainya. Sebaliknya, pencari-tahu-alamiah cenderung mengadakan penelian dalam latar alamiah. Setiap gagasan ilmiah itu dapat dilihat sebagai sisa dari suatu paradigma, parangkat atau asumsi yang eksplisit dan implisit, yang memberikan gaya dan arah.

11. Perlakuan

Bagi paradigma ilmiah, konsep perlakuan sangat penting. Pada setiap eksperimen, perlakuan itu harus stabil dan tidak bervariasi. Jika tidak demikian, maka sekar menentukan pengaruh yang berkaitan dengan suatu penyebab tertentu.

Untuk paradigma alamiah, konsep perlakuan tersebut asing karena perlakuan menyertakan beberapa cara manipulasi atau intervensi. Jika pun hal itu terjadi dengan mempertimbanhgkan terjadinya gejala secara alamiah, maka “perlakuan” itu merupakan penyebab yang dikehendaki untuk beberapa pengaruh yang diamati. Tentu saja mereka tidak mengharapkan adanya stabilitas karena perubahan secara berkesinambungan sebenarnya adalah esensi dari situasi nyata. Barangkali bermanfaat bagi peneliti alamiah untuk menstabilkan sebanyak mungkin situasi ketika inkuiri sedang terjadi. Jadi, bagi peneliti alamiah diperlukan lebih banyak keluwesan.

Pendekatan eksperimental dalam metode ilmiah merupakan suatu kegiatan akti para ilmuwan yang memberi gagasan-gagasan kepada para pekerjanya dalam upaya pengembangan pemehaman lebih mendalam. Kegiatan ini tidak hanya mengacu pada tehnik tertentu dalam pengumpulan data dan analisis seperti eksperimen, tetapi lebih luas pada aktifitas ilmuwan menuju kepada ide-idenya dengan menggunakan pengumpulan data yang dianggap tepat.

12. Satuan Kajian

Satuan kajian bagi paradigma ilmiah adalah variabel dan semua hubungan yang dinyatakan di antara variabel. Sebaliknya, peradigma alamiah berpendirian agar satuan kajian lebih sederhana. Selain itu, mereka lebih menekankan kemurnian sistem pola yang diamati secara alamiah.

13. Unsur-unsur Kontekstual

Peneliti alamiah senantiasa berusaha mengontrol seluruh unsur yang mengganggu yang dapat mengaburkan unsur-unsur itu dari fenomena yang menjadi pusat perhatian atau yang mengacu pada pengaruh terhadap fenomena itu.

Peneliti alamiah bukan hanya tidak tertarik pada kontrol, melainkan malah mengundang adanya ikut campur sehingga mereka secara lebih baik dapat mengerti peristiwa dan dalam dunia nyata dan merasakan pola-pola yang ada di dalamnya. Konsep “mengandung-ikut-campur”, merupakan hal yang sangat penting bagi peneliti alamiah. Biasanya mereka tidak ingin mengetahui bagaimana suatu keutuhan yang telah bekerja secara sangat baik dalam seluruh dunia kemungkinan, tetapi dalam keadaan yang paling jelek sekalipun.

Sumber http://salangketo.blogspot.com/2011/08/catatan-tentang-metode-penelitian-1.html

Categories: Metode Penelitian

Intel Berikan Penghargaan untuk Guru Melek Teknologi

Agustus 28, 2011 1 komentar

http://www.tempo.co/hg/it/2011/08/16/brk,20110816-352087,id.html

Intel Berikan Penghargaan untuk Guru Melek Teknologi
Selasa, 16 Agustus 2011 | 14:38 WIB

AP/Paul Sakuma
TEMPO Interaktif, Jakarta – Intel Indonesia memberikan penghargaan kepada 12 guru, kepala sekolah, dan pengawas dari sekolah negeri yang mengintegrasikan teknologi ke dalam proses belajar mengajar.

Penghargaan tahunan dengan tema “Intel Education Awards” ini dilakukan oleh Intel Education Initiative dan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia, pada Senin, 15 Agustus 2011.

“Dua belas guru ini disaring dari 231 guru yang berasal dari 33 provinsi,” kata Imelda Adhisaputra, Direktur Corporate Affairs Intel Indonesia di Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2011.

Para guru itu melalui berbagai tahapan, termasuk wawancara dan prensentasi untuk memaparkan penerapan teknologi dalam metode belajar mengajar mereka.

Imelda mengatakan tahun ini adalah penganugrahan ketiga Intel Education Awards. Dari tahun ke tahun, ia mengatakan telah melihat banyak contoh luar biasa dari pendidik yang menggunakan teknologi untuk meningkatkan hasil belajar mengajar.

Tahun ini misalnya, kata dia, ada guru dari Pulau Haruaku, Maluku, yang melakukan pemanfaatan teknologi meski dengan fasilitas terbatas, bahkan listrik disana pun tidak stabil.

Siti Zulaifah Sulaiman, Guru SMAN 3 Medan, pemenang Kategori Guru, mengatakan tidak ingin guru kalah bersaing dengan muridnya dalam pemanfaatan teknologi. “Kami selalu ditantang untuk selangkah lebih maju daripada murid. Teknologi membuat kami bisa memberikan lebih banyak untuk para murid,” ujarnya.

Imelda mengatakan Intel Education Awards ini merupakan bagian dari Intel Teach Program yang menyediakan bimbingan teknologi bagi para pendidik untuk memanfaatkannya dalam proses belajar mengajar dan program ini telah melatih 75 ribu tenaga pengajar sejak diluncurkan empat tahun lalu.

Sementara itu, daftar pemenang Intel Education Awards antara lain:

Kategori Guru:

1. Siti Zulfah Sulaiman (SMAN 3 Medan, Sumatera Utara)
2. Mustafa, SST.Par, M.Pd (SMKN 4 Makassar, Sulawesi Selatan)
3. Dra. Herfen Suryati (SMA YPUDP Bontang, Kalimantan Timur)
4. H. Imron Rosidi, S.Pd., M.Pd (SMKN 2 Pasuruan Jawa Timur)
5. Nur Azizah, S.Pd, M.Si (SMAN 1 Koto Baru Dharmasraya, Sumatera Barat)

Kategori Kepala Sekolah dan Pengawas:
1. Drs. Tri Suharnowo, M.M (SMA YPHB Kota Bogor, Jawa Barat)
2. Nikmah Nurbaity, S.Pd, M.Pd (SMAN 5 Purworejo, Jawa Tengah)
3. Andi Candra, M.Pd (SMAN 1 Lebong Atas, Bengkulu)
4. Drs. Ganda Santosa (Dinas Pendidikan Kab. Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan)

Kategori Pengajar Luar Biasa (PLB):
Solbi, S.Pd (SMALB Prof. Dr. Sri Soedewi, Jambi)

Kategori Guru Berdedikasi:
Ali Tuasikal (SMAN 1 Pulau Haruku, Maluku)

Kategori Tutor Paket-C:
Raden Roro Vemmi Kesuma Dewi (PKBM Budaya DKI Jakarta)

Sulsel Menyabet 5 Juara pada Lomba Guru Berprestasi dan Berdedikasi Tahun 2011

Agustus 24, 2011 Tinggalkan komentar

Selamat Atas Kesuksesan Tim Sulawesi Selatan
pada Lomba Guru Berprestasi dan Berdedikasi Tahun 2011.
===========================================================

Selasa 16 Agustus 2011 bertempat di Plaza Gedung A Kemendiknas Jakarta pada Pukul 17.20, telah diumumkan hasil Lomba Guru Berprestasi dan Berdedikasi Tahun 2011. Alhamdulillah, Sulsel mendapatkan 5 Juara yang terdiri dari :

Juara 1 : Kategori Guru SMA Berprestasi
Abd. Hajar, S.Pd M.Pd – SMA Negeri 3 Makassar

Juara 1 : Kategori Guru SMA Berdedikasi
Drs. Daeng Ngilau – SMA Negeri 1 Benteng Kepulauan Selayar

Juara 2 : Kategori Guru SMK Berprestasi
Mustafa, SST.Par, M.Pd – Guru SMK Negeri 4 Makassar

Juara 2 : Kategori Intel Education Award (SMA dan SMK) dalam Pemanfaatan ICT dalam Pembelajaran
Mustafa, SST.Par, M.Pd – Guru SMK Negeri 4 Makassar

Juara 3 : Kategori Tutor Paket C Kesetaraan
Drs. Andi Burhanuddinm M.Si – Tutor PKBM Toddopuli – Guru SMA 21 Makassar

Isu Sentral 1: Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Inpres No. 1 tahun 2010)

Agustus 2, 2011 2 komentar

MUSTAFA
Guru SMK Negeri 4 Makassar
=================================

Pandangan Pribadi

Dalam pandangan pribadi, saya dapat mengungkapkan disini bahwa kebijakan mengenai pendidikan karakter yang diamanahkan oleh Inpres No. 1 tahun 2010 sudah tepat dalam upaya melahirkan siswa didik yang berkarakter. Saya melihatnya bahwa kebijakan ini sebenarnya bukan suatu hal baru namun upaya mempertegas dan memperjelas arah pengembangan pendidikan kita dan merupakan proaktif pemerintah dalam mengantisipasi permasalahan bangsa kita. Dinyatakan dengan jelas dalam Inpres No. 1 Tahun 2010 pada bagian Prioritas 2: Pendidikan, bahwa hal ini merupakan bagian dari penguatan metodologi dan kurikulum yang diwujudkan dalam tindakan berupa penyempumaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.

Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, di dengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan yang muncul yang diindentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Bagaimana menyikapi kebijakan tersebut?

Menyikapi kebijakan pendidikan karakter, tentunya bukan hal yang mudah. Kita tidak bisa menanggapinya secara reaktif lalu mencari jalan keluar singkat untuk mewujudkannya. Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan moral choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Menurut Annie Sullivan (manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904)”Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”.

Disisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu; guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Sebagaimana diungkapkan Philips bahwa keluarga hendaklah kembali menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang (Philips, 2000). Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996 ; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.

Implementasi yang memungkinkan dilaksanakan di sekolah

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.
Menurut Doni Koesoema dalam artikelnya Kucing Hitam Pendidikan Karakter; pendekatan pendidikan karakter bisa dilakukan melalui berbagai macam cara, seperti melalui mata pelajaran khusus, integrasi pendidikan dalam setiap mata pelajaran, atau pendekatan integral yang mempergunakan ruang-ruang pendidikan yang tersedia dalam keseluruhan dinamika pendidikan di sekolah. Apapapun metodologi yang dipilih, setiap pendekatan pengembangan pendidikan karakter akan memiliki konsekuensi berkaitan dengan kesiapan tenaga guru, prioritas nilai, kesamaan visi antara anggota komunitas sekolah tentang pendidikan karakter, struktur dan sistem pembelajaran, kebijakan sekolah, dll. Lebih lanjut Doni menegaskan pula bahwa pendekatan pendidikan karakter dengan cara memberikan pelajaran khusus, seperti ketika pada masa Orde Baru melalui pelajaran wajib Pendidikan Moral Pancasila, dikhawatirkan akan menjerumuskan pendidikan karakter pada indoktrinasi yang mematikan nalar dan daya kritis siswa.
Lebih lanjut Doni dalam artikelnya pendidikan karakter integral menyatakan bahwa Pendidikan karakter jika ingin efektif dan utuh mesti menyertakan tiga basis desain dalam pemrogramannya. Tanpa tiga basis itu, program pendidikan karakter di sekolah hanya menjadi wacana semata.
Pertama, desain pendidikan karakter berbasis kelas. Desain ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar di dalam kelas. Konteks pendidikan karakter adalah proses relasional komunitas kelas dalam konteks pembelajaran. Relasi guru-pembelajar bukan monolog, melainkan dialog dengan banyak arah sebab komunitas kelas terdiri dari guru dan siswa yang sama-sama berinteraksi dengan materi. Memberikan pemahaman dan pengertian akan keutamaan yang benar terjadi dalam konteks pengajaran ini, termasuk di dalamnya pula adalah ranah noninstruksional, seperti manajemen kelas, konsensus kelas, dan lain-lain, yang membantu terciptanya suasana belajar yang nyaman.
Kedua, desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa. Untuk menanamkan nilai kejujuran tidak cukup hanya dengan memberikan pesan-pesan moral kepada anak didik. Pesan moral ini mesti diperkuat dengan penciptaan kultur kejujuran melalui pembuatan tata peraturan sekolah yang tegas dan konsisten terhadap setiap perilaku ketidakjujuran.
Ketiga, desain pendidikan karakter berbasis komunitas. Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat di luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara, juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. Ketika lembaga negara lemah dalam penegakan hukum, ketika mereka yang bersalah tidak pernah mendapatkan sanksi yang setimpal, negara telah mendidik masyarakatnya untuk menjadi manusia yang tidak menghargai makna tatanan sosial bersama.
Pendidikan karakter hanya akan bisa efektif jika tiga desain pendidikan karakter ini dilaksanakan secara simultan dan sinergis. Tanpanya, pendidikan kita hanya akan bersifat parsial, inkonsisten, dan tidak efektif.
Hal lain mengenai hal ini diungkapkan oleh Nurokhim (dalam artikelnya mengenai membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan) pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Ada beberapa panduan tindakan yang dapat dilakukan, berupa;
• Pemberian penghargaan kepada yang berprestasi
• Hukuman kepada yang melanggar
• Menumbuhsuburkan nilai-nilai yang baik
• Mengecam dan mencegah berlakunya nilai-nilai yang buruk
• Menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter, seperti; pelajaran Agama, Sejarah, Moral Pancasila dan sebagainya.

Kesimpulannya, pendidikan karakter di sekolah sudah sewajarnya direncanakan dengan matang dengan dukungan semua pihak di sekolah dengan menekankan pada pembentukan karakter (terpuji) melalui desain pendidikan yang tepat sesuai dengan kondisi kontekstual masing-masing sekolah.

Makassar, 3 Agustus 2011 pukul 03:50
menjelang sahur hari ke 3 Ramadhan 1432 H

Sumber :
http://pendidikankarakter.org/index.php?news&nid=2 3 Agustus 2011
http://pendidikankarakter.org/index.php?p=4_2 3 Agustus 2011
http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html 3 Agustus 2011
http://www.goodreads.com/story/show/14092.Membangun_Karakter 3Agustus 2011
http://karakterbangkit.blogspot.com/ 3 Agustus 2011

Categories: Pendidikan Karakter

MEMBENTUK KARAKTER CARA ISLAM

Agustus 2, 2011 1 komentar

Anda pernah mendengar kata “split personality”? atau kepribadian yang terpecah? Maka semua itu berhubungan dengan proses pembentukan karakter dan moral seorang manusia. Karakter yang ada di dalam dirinya. Maka buku ini akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan karakter manusia dan proses pembentukannya, serta langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk membentuk karakter cara islam.

Krisis Moral dan Kepribadian

Kita hidup dalam sebuah dunia yang gelap, dimana setiap orang meraba-raba, namun tidak menemukan denyut nurani, tidak merasakan sentuhan kasih, dan tidak melihat sorot mata persahabatan yang tulus, dalam hal ini masyarakat mungkin mengalami krisis moral. Krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial, sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial.

Penyebab terjadinya krisis moral adalah :
1. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai, misalnya etika dan estetika
2. Hilangnya model kepribadian yang integral, yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan, kebaikan dengan kekuatan, dan seterusnya
3. Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral
4. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral
Krisis moral ini menimbulkan begitu banyak ketidakseimbangan di dalam masyarakat yang tentunya tidak membuat masyarakat bahagia. Maka solusi yang sangat tepat bagi masalah ini hanya satu yaitu : Kembali menempuh jalan Allah , kembali kepada jalan islam. “Maka, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 38)

Akhlak Dalam Semua Sisi Kehidupan

Akhlak adalah nilai pemikiran yang telah menjadi sikap mental yang mengakar dalam jiwa, lalu tampak dalam bentuk tindakan dan perilaku yang bersifat tetap, natural, dan refleks. Jadi, jika nilai islam mencakup semua sektor kehidupan manusia, maka perintah beramal shalih pun mencakup semua sektor kehidupan manusia itu.

Akhlak = Iman + Amal Shalih

Maka akhlak Laa Ilaaha Illallaah sebagai kumpulan nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan memasuki individu manusia dan merekonstruksi visi, membangun mentalitas, serta membentuk akhlak dan karakternya. Demikianlah, Laa Ilaaha Illallaah sebagai kumpulan nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan memasuki masyarakat manusia dan mereformasi sistem, serta membangun budaya dan mengembangkan peradabannya.

Walaupun islam merinci satuan akhlak terpuji, namun dengan pengamatan mendalam, kita menemukan satuan tersebut sesungguhnya mengakar pada induk karakter tertentu. Sedangkan akhlak tercela seperti penyakit syubhat dan syahwat, sama bersumber dari kelemahan akal dan jiwa.

Pembentukan prilaku

Faktor-faktor pembentuk perilaku antara lain :

Faktor internal :
1. Instink biologis, seperti lapar, dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat rakus, maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya, dan seterusnya
2. Kebutuhan psikologis, seperti rasa aman, penghargaan, penerimaan, dan aktualisasi diri
3. Kebutuhan pemikiran, yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti mitos, agama, dan sebagainya
Faktor eksternal
1. Lingkungan keluarga
2. Lingkungan sosial
3. Lingkungan pendidikan

Islam membagi akhlak menjadi dua yaitu :
1. fitriyah, yaitu sifat bawaan yang melekat dalam fitrah seseorang yang dengannya ia diciptakan, baik sifat fisik maupun jiwa.
2. Muktasabah, yaitu sifat yang sebelumnya tidak ada namun diperoleh melalui lingkungan alam dan sosial, pendidikan, pelatihan, dan pengalaman
Proses pembelajaran

Dalam konsep Islam, karakter tidak sekali terbentuk, lalu tertutup, tetapi terbuka bagi semua bentuk perbaikan, pengembangan, dan penyempurnaan, sebab sumber karakter perolehan ada dan bersifat tetap. Karenanya orang yang membawa sifat kasar bisa memperoleh sifat lembut, setelah melalui mekanisme latihan. Namun, sumber karakter itu hanya bisa bekerja efektif jika kesiapan dasar seseorang berpadu dengan kemauan kuat untuk berubah dan berkembang, dan latihan yang sistematis.

Tahapan perkembangan perilaku

Tahap I (0 – 10 tahun)
Perilaku lahiriyah, metode pengembangannya adalah pengarahan, pembiasaan, keteladanan, penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman), indoktrinasi

Tahap II ( 11 – 15 tahun)
Perilaku kesadaran, metode pengambangannya adalah penanaman nilai melalui dialog, pembimbingan, dan pelibatan

Tahap III ( 15 tahun ke atas)
Kontrol internal atas perilaku, metode pengembangannya adalah perumusan visi dan misi hidup, dan penguatan tanggung jawab kepada Allah

Ambivalensi Kejiwaan Manusia

Ambivalensi adalah dua garis jiwa yang berbeda bahkan berlawanan, namun saling berhadapan. Fungsinya :
1. Merekatkan sisi-sisi kepribadian manusia tetap utuh
2. Memperluas wilayah kepribadian manusia dengan tetap menjaga pusat keseimbangannya
3. Menjaga dinamika perkembangan jiwa manusia
Seseorang akan memiliki tingkat kesehatan mental yang baik, jika garis jiwa yang ambivalen berjalan dan bergerak secara harmonis, seakan simfoni indah orkestra handal. Maka langkah yang harus ditempuh agar simfoni tersebut mengalun indah dan harmonis adalah :
1. Atur posisi dan komposisi garis jiwa itu secara benar, dan hilangkan semua kecenderungan jiwa yang salah
2. Berikan atau tentukan arah kecenderungan jiwa secara benar dan natural.
3. Lihat ekspresinya dalam bentuk sikap dan perilaku kesehariannya
Garis jiwa yang ambivalen ada dalam diri manusia sejak ia lahir sampai ia mati, melekat, dan mewarnai semua sisi kehidupannya. Walaupun demikian, tetap ada perbedaan mendasar tentang objek dan alasan yang melahirkan garis jiwa menjadi perilaku, pada tahapan usia yang berbeda pula.

Pembentukan Kepribadian

Kepribadian terbentuk setelah melalui proses :
1. Adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, mungkin agama, ideologi, dan sebagainya
2. Nilai membentuk pola pikir seseorang yang secara keseluruhan ke luar dalam bentuk rumusan visinya
3. Visi turun ke wilayah hati dan membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk mentalitas
4. Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara keseluruhan disebut sikap
5. Sikap yang dominan dalam diri seseorang secara kumulatif mencitrai dirinya adalah kepribadian
Tiga langkah merubah karakter

1. Terapi kognitif
Cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya adalah dengan memperbaiki cara berfikir

Langkah :
Pengosongan, berarti mengosongkan benak kita dari berbagai bentuk pemikiran yang salah, menyimpang, tidak berdasar, baik dari segi agama maupun akal yang lurus
Pengisian, berarti mengisi kembali benak kita dengan nilai-nilai baru dari sumber keagamaan kita, yang membentuk kesadaran baru, logika baru, arah baru, dan lensa baru dalam cara memandang berbagai masalah
Kontrol, berarti kita harus mengontrol pikiran-pikiran baru yang melintas dalam benak kita, sebelum berkembang menjadi gagasan yang utuh
Doa, berarti bahwa kita mengharapkan unsur pencerahan Ilahi dalam cara berfikir kita

2. Terapi mental
Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. Tindakan yang harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis

Langkah :
Pengarahan, berarti perasaan-perasaan kita harus diberi arah yang jelas, yaitu arah yang akan menentukan motifnya. Setiap perasaan haruslah mempunyai alasan lahir yang jelas. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan secara kuat dengan pikiran kita
Penguatan, berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. Ini secara langsung terkait dengan unsur keyakinan, kemauan, dan tekad yang dalam yang memenuhi jiwa, sebelum kita melakukan suatu tindakan.
Kontrol, berarti kita harus memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua warna perasaan diri kita
Doa, berarti kita mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan, penguatan, dan pengendalian bagi mental kita

3. Perbaikan fisik
Sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasar-dasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur :
1. Gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan
2. Olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup
3. Istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh
Hadist riwayat Imam Ahmad :
Rasulullah berkata, “Inginkah kalian kuberitahu tentang siapa dari kalian yang paling kucintai dan akan duduk di majelis terdekat denganku di hari kiamat?”
Kemudian Rasul mengulanginya sampai tiga kali, dan sahabat menjawab “Iya, ya rasulullah !” Lalu rasul bersabda, “Orang yang paling baik akhlaknya.”

Pada kesempatan kali ini, saya juga membuat ringkasan bukunya dalam format pdf. Anda bisa mengunduhnya secara gratis. Dan jika anda ingin mempublikasikannya kembali, dengan segala kerendahan hati, harap mencantumkan link web ini, terimakasih.

Sumber :
http://pustaka-ebook.com/membentuk-karakter-cara-islam/3 Agustus 2011

Sumber Gambar:

http://pustakahanan.googlepages.com/membentukkaraktercaraislam.jpg

Categories: Pendidikan Karakter

GURU BERKARAKTER CERMINAN SISWA BERKARAKTER

Setiap anak dilahirkan dengan potensi jasad, akal, dan mental ruhani yang siap menerima bentukkan lingkungan.

Sesungguhnya anak adalah amanah dari Allah yang tidak hanya sekedar dititipkan dibawah penghidupan dan pengawasan diri kita, namun lebih dari itu akan diminta pertanggungjawabannya kelak dihadapan Allah SWT. Anak shalihlah yang akan menjadi dambaan orang tua, ketika hidupnya di dunia telah habis, sebagaimana diungkap salah satu hadist, : “ Bila seorang anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga ( hal ): sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang mendo’akan orang tuanya “ ( HR. Muslim ).

Guru sebagai bagian dari orang tua siswa di sekolah perlu mewujudkan agar siswanya menjadi manusia-manusia shaleh yang bertaqwa. Fitrah kecintaan guru kepada siswa membuat segala upaya telah dilakukan agar siswa menjadi jauh lebih baik.
Allah SWT berfirman : “ Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah ujian ( bagimu ) dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. ( QS. Ath-Thaghabun: 14-15 )
Subhanallah, kalau saja kita sebagai guru telah membimbing siswanya menjadi anak yang shaleh, berapa banyak amal yang telah kita tabung untuk kehidupan di akhirat nanti. Dan tabungan amal itu tidak akan ternilai dengan apapun.

Banyak guru mencita-citakankan agar siswanya menjadi shaleh, namun tidak mendukung support system yang bisa mendukung tumbuh kembangnya keshalihah ini. Misalnya siswa diharapkan rajin beribadah, berakhlak mulia, tetapi gurunya tidak mencontohkan dirinya menjadi sosok yang rajin beribadah. Tentu saja sulit bagi siswa untuk membentuk karakter yang shaleh tersebut.

Menurut Ustadz Prof. Achmad Satori Ismail, MA,”mencontohkan saja tidaklah cukup . “ Memberi contoh memang jalan yang terbaik dalam mendidik dan membentuk karakter siswa , tetapi kalau tidak diseru, tidak diajak, maka siswa –siswa tidak akan terpanggil untuk ikut melaksanakannya.

Dalam upaya membentuk siswa menjadi shaleh tersebut, maka guru perlu membimbing siswa dengan pendekatan pendidikan karakter. Pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia.
Pendidikan karakter mempunyai tujuan bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal yang baik sehingga siswa didik menjadi faham tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan nilai yang baik dan mau melakukannya.

Orang yang berperilaku tidak jujur, rakus, atau kejam dikatakan sebagai orang yang berkaraktek jelek, sementara orang yang berperilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia.

Pendidikan karakter akan menumbuhkan kecerdasan emosi siswa yang meliputi kemampuan mengembangkan potensi diri dan melakukan hubungan sosial dengan manusia lain.
Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak di bangku sekolah .karenanya, sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk manusia-manusia berkarakter yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang terhormat. Seperti menurut Socrates: “Then the man who’s going to be a fine and good guardian of the city for us will in nature be philosophic, spirited, swift, and strong” (Bloom, A.: 1991).

Sumber :
http://www.almuslim.web.id/index.php?option=com_content&task=view&id=39&Itemid=1%20&PHPSESSID=27ccadc054d07dec28540b4f25bf071e 25 Mei 2009
dalam info karakter http://karakterbangkit.blogspot.com/ 3 Agustus 2011

Sumber Gambar:

http://wiek.files.wordpress.com/2008/11/teach.jpg

Categories: Pendidikan Karakter

Kucing Hitam Pendidikan Karakter

Kucing Hitam Pendidikan Karakter
Kompas, 19 Juli 2010

Doni Koesoema A

Mengembangkan pendidikan karakter itu ibarat mencari kucing hitam dalam kamar yang gelap, begitu ujar seorang guru. Memulai tahun ajaran baru, banyak sekolah mempromosikan program pendidikan karakter. Bahkan, tahun ini pun pemerintah juga menggemakan tentang pentingnya pendidikan karakter. Namun, semakin banyak dibicarakan, semakin tidak jelas halnya. Akhirnya, seperti kata guru tadi, kita berhadapan dengan kucing hitam dalam kamar yang gelap.

Diskursus terbuka
Wacana pendidikan karakter memang menarik dibicarakan. Hal sepenting pembentukan karakter yang menyangkut pertumbuhan individu dan warga negara di masa kini dan mendatang tidak mungkin hanya dibicarakan oleh sekelompok elit pengambil keputusan. Diskursus terbuka mesti menjadi hal yang wajar, karena pendidikan adalah tanggungjawab semua.
Gambaran kucing hitam sebenarnya menunjuk pada berbagai macam tema terbuka yang mesti dipertimbangkan secara serius oleh setiap pendidik dan para pengambil keputusan sebelum mereka mengembangkan pendidikan karakter. Meskipun pendidikan karakter dirasakan kemendesakannya, baik itu berkaitan dengan pengembangan pembentukan diri individu secara utuh, serta dampak-dampak pembentukan karakter bagi kelangsungan sebuah masyarakat, pendidikan karakter merupakan sebuah konsep yang tidak jelas dengan sendirinya (self-evident).
Klaim pemahaman tentang pendidikan karakter bisa melibatkan berbagai macam kepentingan, seperti kepentingan politis, sosial, budaya, agama, psikologi, pendidikan, dan psikis. Pendidikan karakter yang berkaitan dengan kebaikan dan kesejahteraan individu dan masyarakat mau tidak mau mesti melibatkan banyak pihak. Perbedaan kepentingan ini bisa melahirkan konflik satu sama lain dalam rangka pengembangan pendidikan karakter.
Namun, meskipun setiap pihak memiliki perbedaan kepentingan dalam pengembangan pendidikan karakter, ada dua hal yang sama-sama menjadi tantangan bagi setiap klaim yang mereka ajukan. Pertama, fokus bagi pendidikan karakter. Kedua, metodologi. Ketiga, evaluasi.
Fokus pendidikan karakter
Ada tiga fokus pendidikan karakter yang selama ini mendominasi wacana. Pertama, pendidikan karakter memusatkan diri pada pengajaran (teaching values). Kedua, pendidikan karakter yang memusatkan diri pada klarifikasi nilai (value clarification) dan yang terakhir pendidikan karakter yang mempergunakan pendekatan pertumbuham moral Kohlberg (character development).
Pendidikan karakter yang berpusat pada pengajaran mengutamakan isi nilai-nilai tertentu yang harus dipelajari, serta sekumpulan kualitas keutamaan moral, seperti kejujuran, keberanian, kemurahan hati, dll, agar diketahui dan dipahami oleh siswa. Klarifikasi nilai lebih mengutamakan proses penalaran moral serta pemilihan nilai yang mesti dimiliki oleh siswa. Sedangkan fokus pada pertumbuhan karakter moral mengutamakan perilaku yang merefleksikan pemerimaan nilai serta menekankan unsur motivasi, serta aspek-aspek kepribadian yang relatif stabil yang akan mengarahkan tindakan individu.
Fokus pertama mengutamakan pengetahuan dan pengertian (intelectual), fokus kedua mengutamakan perilaku (conduct), namun tetap saja mereka memberikan prioritas pada pemahaman, serta proses pembentukan dan pemilihan nilai. Sedangkan fokus ketika mengutamakan pertumbuhan motivasi internal dalam membentuk nilai selaras dengan tahap-tahap perkembangan moral individu.
Metodologi
Hiruk pikuk debat tentang pendidikan karakter terutama berkaitan dengan metodologi atau pendekatan. Pendekatan pendidikan karakter dengan cara memberikan pelajaran khusus, seperti ketika pada masa Orde Baru melalui pelajaran wajib Pendidikan Moral Pancasila, dikhawatirkan akan menjerumuskan pendidikan karakter pada indoktrinasi yang mematikan nalar dan daya kritis siswa.
Pendekatan pendidikan karakter bisa dilakukan melalui berbagai macam cara, seperti melalui mata pelajaran khusus, integrasi pendidikan dalam setiap mata pelajaran, atau pendekatan integral yang mempergunakan ruang-ruang pendidikan yang tersedia dalam keseluruhan dinamika pendidikan di sekolah.
Apapapun metodologi yang dipilih, setiap pendekatan pengembangan pendidikan karakter akan memiliki konsekuensi berkaitan dengan kesiapan tenaga guru, prioritas nilai, kesamaan visi antara anggota komunitas sekolah tentang pendidikan karakter, struktur dan sistem pembelajaran, kebijakan sekolah, dll.
Evaluasi
Yang paling membingungkan ketika berbicara tentang pendidikan karakter adalah persoalan tentang evaluasi, yaitu tentang cara dan tujuan evaluasi. Pendidikan karakter seringkali dianggap sebagai bidang yang sulit untuk diukur, dinilai dan dievaluasi. Membuat mata pelajaran tentang pendidikan karakter, dan dengan demikian menilai pengetahuan siswa tentangnya melalui tes tertulis akan lebih mudah dibandingkan menilai perilaku siswa. Ada persoalan serius berkaitan dengan cara-cara penilaian dalam pendidikan karakter.
Masalah evaluasi sering dikaitkan dengan tujuan pendidikan karakter. Apakah evaluasi mesti dikaitkan dengan kenaikan kelas, atau kelulusan, seperti yang selama ini dianjurkan pemerintah, dimana penilaian budi pekerti, perilaku, sikap, bisa menjadi alasan untuk tidak menaikkan atau meluluskan siswa? Faktanya, kriteria penilaian yang sumir seperti ini seringkali hanya sekedar menjadi macam kertas, dan tidak terjadi di lapangan. Asal anak lulus ujian nasional, persoalan budi pekerti, moral, perilaku siswa tampaknya masih bisa diabaikan.
Kucing hitam atau kotak hitam?
Pendidikan karakter tidak perlu dipahami seperti kucing hitam jika kita mampu memetakan persoalan, serta berani bertindak untuk menjawab tantangan bagi pengembangan pendidikan karakter. Indoktrinasi, bisa jadi menjadi salah satu tantangan. Namun, relativisme moral, serta reduksi pendidikan karakter pada hal yang sifatnya rohani, spiritual, atau sekedar pada tata krama dan sopan santun, serta ketidakseriusan pelaksanaan akibat sulit memahami dan menilai pendidikan karakter kiranya menjadi tantangan bagi tiap pendidik dan pengambil keputusan.
Pendekatan yang lebih utuh dan menyeluruh bagi pendidikan karakter kiranya diperlukan. Adanya perbedaan pendapat tentang pendidikan karakter adalah hal yang sehat. Namun, pemaksaan politis, baik itu dari pihak negara, masyarakat, maupun dari pihak sekolah tentangnya, tanpa memberikan ruang bagi dialog, debat, diskusi, kritik yang terbuka, kiranya bukan awal pengembangan pendidikan karakter yang baik.
Pendidikan karakter mestinya menjadi kotak hitam pendidikan, di mana setiap gerak, kegiatan, pemikiran, diskusi, praksis yang terjadi di sekolah dapat ditelusuri kembali, direnungkan, dievaluasi, sehingga jalan-jalan perbaikan itu terbuka. Selalu terbuka pada perbaikan, inilah salah satu sikap yang mesti dimiliki jika kita ingin mengembangkan pendidikan karakter yang berkesinambungan.
Doni Koesoema A. Alumnus Boston College Lynch School of Education, Boston, USA.

Dalam http://pendidikankarakter.org/index.php?p=4_2 3 Agustus 2011

Categories: Pendidikan Karakter
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.