Beranda » Artikel dan Tulisan Singkat - Short Story » Kriteria “Sekolah yang Baik”

Kriteria “Sekolah yang Baik”

SZG Walle 10:10

Hari ini adalah hari ke 24 (dua puluh empat) saya diberi kesempatan untuk mengamati, mempelajari, menanyakan, menelaah, berdiskusi dan menganalisis berbagai hal di sebuah Schulzentrum di Kota Bremen Jerman. Schulzentrum ini bernama SZG (Schulzentrum Grenzstrasse). Sekolah ini merupakan sebuah lembagan pendidikan yang mengelola 3 jenis sekolah (Beruffachschule-BFS, Berufschule-BS dan Berufliche Gymnasium-BG).

Melalui berbagai kegiatan pengamatan yang saya lakukan selama ini dari Pagi sampai sore, terkadang sampai malam jika ada kegiatan pertemuan dan pertemuan guru (umumnya kegiatan pertemuan para guru dilakukan setelah jam mengajar) senin sd Jumat, terkadang juga di hari Minggu (kegiatan dengan Aosisiadi dan Industri biasanya dilakukan pada hari Minggu), saya bisa melihat bahwa mewujudkan sebuah sekolah yang dikategorikan “guter
Schulen” bukan pekerjaan yang mudah dan ringan. Hal tersebut memerlukan kerja ber hari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan ber tahun-tahun. Tidakpula dapat dituntaskan oleh hanya seorang Kepala Sekolah, atau bersama wakilnya saja atau bersama Ketua Kompetensi Keahliannya saja atau bersama Tata Usahanya saja, atau bersama guru-gurunya saja. Hal tersebut membutuhkan kerjasama berbagai pihak baik secara internal maupun eksternal sekolah.

Dari balik Ruang Kerja yang nyaman, tenang, fasilitas Komputer lengkap dengan jaringan internet  dan sangat representatif, yang disiapkan oleh Manajemen Sekolah ini kepada saya sejak tanggal 12 Pebruari 2011, saya bisa mengamati setiap hari kesibukan Tata Usaha (Tim Tata Usahanya hanya 3 orang untuk mengurusi 2.600 siswa dan 120 guru… lebih lanjut mengenai hal ini akan saya tuliskan tersendiri), siswa yang datang tiap pagi, guru-guru dengan mengendarai sepeda beserta setumpuk Materi dan Administrasi pembelajaran yang mereka selalu bawa setiap saat. Tegur sapa diantara siswa, antara Guru dan Staf selalu mewarnai suasana pagi hari di sekolah ini. Ruang Kepala Sekolah dan Wakilnya (di sekolah ini hanya 1 Wakil Kepala Sekolah) selalu sudah terbuka pada pukul 07.15 (45 menit sebelum pembelajaran di mulai) untuk mengamati, menyapa dan mendiskusikan hal-hal yang dibutuhkan oleh guru dan stafnya di pagi hari sebelum pembelajaran pada pukul 08.00 dimulai. Ruang Belajar selalu sudah siap untuk ditempati oleh siswa dalam keadaan bersih setiap pagi dikarenakan setelah siswa menggunakan kelas mereka merapikan kelasnya dan para guru tidak meninggalkan kelas sebelum mengecek semua kerapihan kelas yang ada. Hal ini ditambah lagi bantuan 2 kali seminggu dari Tim Kebersihan yang selalu membantu mreapikan masing-masing kelas dan kesigapan seorang Hausmeister (saya akan menuliskan secara khusus mengenai Hausmeister  di sekolah ini) yang mengamati segala hal menyangkut keamanan dan kesiapan prasarana sekolah setiap harinya.

Setiap 90 menit pembelajarn, siswa diberi waktu 20 menit untuk beristirahat sebelum melanjutkan pembelajaran berikutnya. Umumnya siswa menempati satu ruang khusus untuk satu kelas kecuali untuk pembelajaran menggunakan Ruang Praktik Khusus seperti ruang Komputer dan Media Khusus lainnya. Tiga orang Tim Vetretungsplan (Jadual Pembelajaran) dan Stunden Plan (Jadwal Mengajar Guru) selalu siap memperbaharui informasi mengenai kondisi dan posisi pembelajaran di 55 Kelas yang tersedia, baik secara Online melalui program yang dimiliki sekolah yang dapat diakses siswa melalui Komputer dan Layar Monitor di Lobby Sekolah, maupun melalui Papan Pengumuman yang ditempeli Informasi mengenai Vetretungsplan hari ini dan hari esok.

Di jam istirahat ini selain kesibukan siswa bercanda, menikmatai makan dan minuman yang mereka bawa ataupun yang mereka beli dari Kantin atau Vending Machine yang tersedia, ada juga diantara mereka yang menggunakan kesempatan ini menemui Ketua Kompetensi Keahliannya (KK) ataupun Klassen Sprechpartner (KSP) nya untuk mendiskusikan permasalahan yang mereka punyai. Siswa di sekolah ini punya 3 pilihan untuk mendiskusikan permasalahannya bisa ke Ketua KK, KSP ataupun langsung ke Beraterraum in der Insle (Pulau Nasihat) yang merupakan istilah bagi ruang Bimbingan, Penyuluhan dan Karir di sekolah ini.

Sekolah ini tidak menyiapkan Bel Khusus untuk pergantian jam pembelajaran dan istirahat, semua guru dan siswa menggunakan sinyal dari diri mereka dengan panduan jam tangan ataupun jam dari telepon genggam mereka untuk selalu berada di kelas tepat waktu. Suasana pembelajaran sangat kondusif. Dari 9 kali kunjungan kelas yang telah saya lakukan sampai hari ini secara dominan saya dapat melihat bahwa Tim Guru dan siswa mampu memperlihatkan sebuah pembelajaran aktif dengan memadukan berbagai metode dan menggunakan berbagai media pembelajaran. Saya sangat terkesan dengan keaktifan dan keberanian para siswa dalam merespon setiap materi dan pertanyaan yang diberikan guru dan kesabaran mereka menunggu kesempatan untuk bertanya ataupun menjawab walaupun mereka harus berkali-kali unjuk tangan untuk mendapatkan respon dari gurunya.

Di sela-sela waktu pengamatan saya pada pembelajaran dan suasana sekolah sebelum pembelajaran dan pada saat pembelajaran terjadi serta masa-masa dimana para siswa meninggalkan sekolah, saya berkesempatan pula melihat bagaimana koordinasi dan pengembangan SDM, pengelolaan sarana dan hubungan kerja baik internal dan eksternal yang dilakukan oleh Tim Manajemen.

Secara periodik, terstruktur, terdokumentasi dan terencana guru secara individu di pantau oleh Koordinator pengembangan SDM, Ketua KK, Wakasek dan Kepsek agar mereka dapat dan tetap melakukan pembelajaran sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati. Setiap hari terjadi koordinasi di sela-sela waktu jam mengajar mereka selama 20 sd 30 menit mendiskusikan dan mendengarkan arahan mengenai apa yang sebaiknya, seharusnya dan selayaknya mereka lakukan secara pribadi dan bersama untuk pengembangan sekolah. Selain itu hampir setiap hari kegiatan koordinasi dalam konteks yang berbeda dilakukan oleh para guru sesuai dengan KK dan Bagian yang mereka awasi dan kembangkan.

Pagi ini sambil menulis satu dua kalimat yang saya paparkan, saya membuka sebuah file presentasi yang diberikan oleh Herr Fabisch-Schulleiter sekolah ini mengenai Wissenschaftliche Evaluation des schulinternen Qualitätsmanagements an Mittel- und Berufsschulen. yang ditulis oleh Mathias Peters pada Slide 19 dan 20 saya dapatkan ungkapan ini dan saya coba terjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :

Karakteristik “sekolah yang bagus”

  1. Selalu berorientasi pada standar kinerja profesional
  2. Memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pengetahuan dan kompetensi
  3. Berpartisipasi dan Bertanggung Jawab terhadap siswa
  4. Menjalin budaya kerjasama yang baik antara manajemen, guru dan siswa
  5. Menggunakan dan konsisten pada aturan: Kepastian dalam melakukan tindakan
  6. Mengembangkan kehidupan yang memberikan peluang kepada guru dan siswa untuk berkreasi
  7. Kerjasama diterima oleh semua pihak dan tujuan diinformasikan secara jelas
  8. Kerjasama dan konsensus dalam kegiatan sekolah
  9. Keterlibatan Orang Tua
  10. Pelatihan Internal bagi Guru

Salam dari Bremen.

Mustafa…. **MT, 007/170311**

 

Satu gagasan untuk “Kriteria “Sekolah yang Baik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s