Catatan tentang Metode Penelitian 2

Sumber : http://salangketo.blogspot.com/2011/08/catatan-tentang-metode-penelitian-2.html

Catatan tentang Metode Penelitian 2
TELAAH KRITIS TENTANG MODEL PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Oleh Andi Agustang

II. KARAKTERISTIK PENELITIAN
Penelitian kualitatif memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dengan penelitian jenis lainnya. Dari hasil penelaahan kepustakaan ditemukan bahwa Boghan dan biklen (1982-27-30) mengajukan lima buah ciri, sedang Licholn dan Guba (1983) mengulas sepuluh buah ciri penelitian kualitatif. Uraian di bawah ini merupakan hasil pengkajian dan sintesis kedua versi tersebut, yaitu :

1. Latar Alamiah
Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (entity). Hal ini dilakukan, menurut Licholn dan Guba (1985:39), karena ontologi alamiah menghendaki adanya kenyataan-kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya. Menurut mereka hal tersebut didasarkan atas beberapa asumsi :

Tindakan pengamatan mempengaruhi apa yang dilihat, karena itu hubungan penelitian harus mengambil tempat pada keutuhan-dalam konteks untuk keperluan pengamatan.
Konteks sangat menetukan dalam menetapkan apakah suatu penemuan mempunyai arti bagi konteks lainnya, yang berarti bahwa suatu fenomena harus diteliti dalam keseluruhan pengaruh lapangan; dan
Sebagian struktur nilai kontestual bersifat determinatif terhadap apa yang akan dicari.

2. Manusia Sebagai Instrumen
Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. Hal itu dilakukan karena, jika memanfaatkan alat yang bukan-manusia dan mempersiapkannya terlebih dahulu sebagai lajim digunakan dalam penelitian klasik, maka sangat tidak mungkin untuk mengadakan penyeseuaian terhadap kenyataan-kenyataan di lapangan. Hanya manusia sebagai insrumen pulalah yang dapat menilai apakah kehadirannya menjadi faktor pengganggu sehingga apabila terjadi hal yang demikian ia pasti dapat menyadarinya serta dapat mengatasinya.

3. Metode Kualitatif
Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan, yaitu :

Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan-ganda;
Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden; dan
Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.

4. Analisis Data Secara Induktif
Dengan menggunakan analisis secara induktif, berarti bahwa pencarian data bukan dimaksudkan untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan sebelum penelitian diadakan. Analisis ini lebih merupakan pembentukan abstraksi berdasarkan bagian-bagian yang telah dikumpulkan, kemudian dikelompok-kelompokkan. Jadi penyusunan teori di sini berasal dari bawah ke atas, yaitu dari sejumlah bagian yang banyak data yang dukumpulkan dan yang saling berhubungan.
Jika peneliti merencanakan untuk menyusun teori, arah penyusunan teori tersebut akan menjadi jelas sesudah data dikumpulkan. Jadi peneliti dalam hal ini menyusun atau membuat gambaran yang makin menjadi jelas sementara data dikumpulkan dan bagian-bagiannya diuji. Dalam hal ini peneliti tidak berasumsi bahwa sudah cukup yang diketahui untuk memahami bagian-bagian penting sebelum mengadakan penelitian.

5. Deskriptif
Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudahditeliti.
Pada penulisan laporan, peneliti menganalisis data yang sangat kaya tersebut dan sejauh mungkin dalam bentuk aslinya. Hal itu hendaknya dilakukan seperti orang merajut sehingga setiao bagian telaah satu demi satu. Pertanyaan dengan kata lain “mengapa” , “alasan apa” dan “bagaimana terjadinya” akan senantiasa dimanfaatkan oleh peneliti.

6. Lebih Mementingkan Proses daripada Hasil
Penelitian kualitatif lebih banyak mementingkan segi “proses” daripada “hasil”. Hal ini disebabkan oleh hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses. Bogdan dan Biklen (1982:29) memberikan contoh seorang peneliti mengamatinya dalam hubungan sehari-hari, kemudian menjelaskan tentang sikap yang diteliti. Dengan kata lain, peranan proses dalam penelitian kualitatif besar sekali.

7. Adanya “Batas” yang ditentukan oleh “Fokus”
Penelitian kualitatif menghendaki ditetapkannya batas dalam penelitiannya atas dasar fokus (identifikasi masalah) yang timbul sebagai masalah dalam penelitian. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :

Pertama,batas menentukan kenyataan ganda yang kemudian mempertajam fokus
Kedua, penetapan fokus dapat lebih dekat dihubungkan oleh interaksi antara peneliti dan fokus. Dapat lebih dekat di hubungkan oleh interaksi antara peneliti dan fokus. Dengan kata lain, bagaimana pun, penetapan fokus sebagai masalah penelitian artinya dalam usaha menemukan batas penelitian. Dengan hal itu dapatlah peneliti menemukan lokasi penelitian.

8. Adanya Kriteria Khusus untuk Keabsahan Data
Penelitian kualitaif meredifinisikan validitas, reliabilitas, dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan lazim digunakan dalam penelitian klasik. Menurut Licoln dan Guba (198~:43) hal itu disebabkan hal-hal sebagai berikut :

Pertama oleh validitas internal cara lama telah gagal karena hal itu menggunakan isomorfisme antara hasil penelitian dan kenyataan tunggal dimana penelitian dapat dikonvergasikan.
Kedua, validitas eksternal gagal karena tidak taat asas dengan aksioma (satu perangkat kepercayaan yang didasarkan atas asumsi-asumsi tertentu yang sudah terbentuk dalam diri peneliti) dasar dari generalisasinya;
Ketiga, kriteria reabilitas ggal karena mempersyaratkan stabilitas dan keterlakasnaan secara mutlak dan keduanya tidakmungkin digunakan dalam paradigma yang didasarkan atas desain yang dapat berubah-ubah.
Keempat, kriteria objektivitas gagal karena penelitian kuantitatif justru memberi kesempatan interaksi antara peneliti-responden dan peranan nilai.

9. Desain yang bersifat Sementara /temporal
Penelitian kualitatif desain yang secara terus-menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan. Jadi, tidak menggunakan desain yang telah disusun secara ketat dan kaku sehingg tidak dapat diubah lagi. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :

Pertama, tidak dapat dibayangkan sebelumnya tentang kenyataan-kenyataan ganda di lapangan;
Kedua, tidak dapat diramalkan sebelumnya apa yang akan berubah karena hal itu akan terjadi dalam interaksi antara peneliti dengan kenyataan;
Ketiga, bermacam sistem nilai terkait berhubungan dengan cara yang tidak dapat diramalkan.

10. Hasil Penelitian Dirundingkan dan Disepakati Bersama
Penelitian kualitatif lebih menghendaki agar penelitian agar pengertian dari hasil interprestasi yang diperoleh dirundingkan data dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sebagai sumber data. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal , sebagai berikut:

Pertama,susunan kenyataan dari merekalah yang akan diangkat oleh peneliti
Kedua, hasil penelitian bergantung pada hakikat dan kualitas hubungan antara pencari dengan yang dicari
Ketiga, konfirmasi hipotesis, kerja akan menjadi lebih baik verifikasinya apabila diketahui dan dikonfirmasikan oleh orang-orang yang ada kaitannya dengan yang diteliti.

Sumber : http://salangketo.blogspot.com/2011/08/catatan-tentang-metode-penelitian-2.html

TELAAH KRITIS TENTANG MODEL PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF

Sumber http://salangketo.blogspot.com/2011/08/catatan-tentang-metode-penelitian-1.html

Catatan tentang Metode Penelitian 1
TELAAH KRITIS TENTANG MODEL PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF
Oleh Andi Agustang

IV. Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif

Perbedaaan antara penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Guba dan Lincoln (1981: 62-82) menyajikan uraian yang cukup penjang dn mempertentangkan perbedaan peradigma kedua penelitian ini. Untuk Penelitian kuantitatif digunakan scientific paradigm (paradigma ilmiah), sedangkan penelitian kualitatif dinamakan naturalistic inquiry atau inkuiri alamiah. Adapun perbedaannya meliputi:

1. Teknik yang digunakan

Pada dasarnya, baik teknik kuantitaitif maupun teknik kualitatif dapat digunakan bersama-sama . Namun, penekanannya diletakkan pada teknik tertentu. Paradigma ilmiah memberi tekanan pada teknik kuantitatif, sedangkan paradigma alamiah memberi tekanan pada penggunaan teknik kualitatif.

2. Kriteria Kualitatif

Dalam menentukan penelitian yang “baik”, paradigma ilmiah sangat percaya pada kriteria Rigor, yaitu kesahihan eksternal dan internal, keandalan, dan objektivitas. Pada dasarnya, menurut Guba dan Lincoln (1981:66), penekanan pada kriteria tersebut terang membawa eksperimen pada penyusunan desain yang bagus, tetapi sering sempit cakupannya. Hal ini bersumber pada kenyataan bahwa kebanyakan eksperimen memasukkan situasi yang kurang dikenal, buatan, dan masa hidupnya singkat, dan hal itu membuat latar-tak-biasa sukar digeneralisasikan pada latar lainnya.

Sebaliknya, paradigma alamiah menggunakan kriteria relevansi. Relevansi di sini adalah signifikansi dari pribadi terhadap lingkungan kenyataannya. Usaha menemukan kepastian dan keaslian merupakan hal yang penting dalam penelitian alamiah.

3. Sumber Teori

Sebagian besar pengetahuan tentang perilaku sosial diarahkan pada verifikasi hipotesis yang diturunkan dari teori apriori. Kebanyakan teori yang disusun pada hakikatnya adalah deduktif dan logis dalam pengetahuan perilaku sosial. Proses penyusunan teori berputar-putar pada proses deduksi yang bisa diverifikasikan dari dunia nyata atas dasar asumsi apriori.

Cara lainnya yang lebih bermanfaat adalah menemukan teori dengan cara menariknya sejak awal dari alam, yaitu dari data yang berasal dari dunia nyata. Metode yang digunakan adalah metode menemukan dengan menganalisis data yang diperoleh secara sistematis. Penyusunan teorinya dimulai dari dasar. Teori demikian akan cocok dengan situasi empiris dan penting untuk meramalkan, menerangkan, menafsirkan, dan mengaplikasikan. Jadi, teori ini memenuhi dua kriteria, yaitu meramalkan, menerangkan, dan menafsirkan.

4. Pertanyaan tentang Kuasalitas

Penelitian biasanya dihadapkan pada penentuan hubungan sebab-akibat jawaban terhadap pertanyaan hubungan sebab-akibat penting untuk keperluan meramalkan, kontrol di satu pihak, dan verstehan (pengertian interpretatif menganai manusia) di lain pihak. Kedua paradigma ilmiah maupun alamiah menggunakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun dengan cara yang berbeda.

5. Tipe Pengetahuan yang digunakan
Ada dua macam atau tipe pengetahuan ; yaitu :

· Pengatahuan proposisional dan
· Pengatahuan-yang – diketahui – bersama yang diketahui dan disepakati juga oleh subjek.

Kedua tipe pengetahuan tesebut dapat dijelaskan perbedaannya pengetahuan proporsional adalah pengetahuan yang dapat dinyatakan dalam bentuk bahasa. Pengetahuan-yang-diketahui-bersama (tacit knowledge) ialah instuisi, pemahaman, atau perasaan yang tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata yang dalam hal-hal tertentu diketahui oleh subjek.

Paradigma ilmiah membatasi diri pada pengetahuan demikian merupakan esensi metode untuk menyatakan proporsi secara eksplisit dalam bentuk hipotesis yang diuji untuk menentukan validitasnya. Teori-teori terdiri atas pengumpulan hipotesis semacam itu.

Sebaiknya, paradigma alamiah mengizinkan dan mendorong pengetahuan yang diketahui bersama guna dimunculkan untuk keperluan membantu pembentukan teori dari dasar maupun untuk memperbaiki komunikasi kembali kepada sumber informasi dengan cara peristilahan mereka.

6. Pendirian

Paradigma ilmiah berpendirian reduksionis. Dalam hal ini mereka menyempitkan penelitian pada fokus yang relatif kecil dengan jalan membebankan kendala-kendala baik pada kondisi anteseden pada inkuiri (untuk keperluan mengontrol) maupun pada keluaran-keluaran.

Jadi pencari-tahu-ilmiah mempunyai pendirian ekspansionis. Mereka mencari perspektif yang akan mengarahkan pada deskripsi dan pengertian fenomena sebagai keseluruhan atau akhirnya dengan jalan menemukan sesuatu yang mencerminkan kerumitan gejala-gejala itu. Mereka memasuki lapangan, membangun dan melihat pembawaannya yang tanpa dari arah manapun titik masuknya. Setiap langkah inkuiri didasarkan atas sejumlah pengetahuan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Jadi pencari-tahu-ilmiah mengambil sikap sruktur, terarah, dan tunggal, sedangkan pencari-tahu-alamiah berpendirian terbuka, menjajagi, dan kompleks.

7. Maksud

Paradigma ilmiah mempunyai maksud dalam usahanya menemukan pengetahuan melalui verifikasi hipotesis yang dispesifikasikan secara apriori. pencari-tahu-ilmiah, dipihak lain. Meninikberatkan upayanya pada usaha menemukan unsur-unsur atau pengetahuan yang belum ada dalam teori yang berlaku.

8. Instrumen

Untuk mengumpulkan data, paradigma ilmiah memanfaatkan tes tertulis (tes-pinsil-kertas) atau kuesioner atau menggunakan alat fisik lainnya seperti poligraf, dan sebagainya. Pencari-tahu-ilmiah dalam pengumpulan data lebih banyak bergantung pada dirinya sebagai alat pengumpulan data. Hal itu mungkin disebabkan oleh sukarnya mengkhususkan secara tepat pada apa yang akan diteliti. Di samping itu, orang-sebagai-instrumen memiliki senjata “dapat-memutuskan”, yang secara luwes dapat digunakannya. Ia senantiasa dapat menilai keadaan dan dapat mengambil keputusan.

9. Waktu untuk Mengumpulkan Data dan Aturan Analisis

Pencari-tahu-ilmiah dapat menetapkan semua aturan pengumpulan dan analisis data sebelumnya. Mereka sudah mengatahui hipotesis yang akan diuji dan dapat mengembangkan instrumen yang cocok dengan variabel. Instrumen ditetapkan sebelumnya tentang ukuran terhadap ciri yang diketahui sehingga memungkinkan waktu melakukan analisis.

Paradigma alamiah sebaliknya, tidak diperkenalkan memformulasikan secara apriori. Datanya dikumpulkan serta dikategorisasi kan dalam bentuk kasar dan diunitkan oleh peneliti/analisis. Di samping itu, pencari-tahu-ilmiah kurang bimbing oleh aturan dibandingkan dengan paradigma ilmiah. Tentu saja langkah-langkah tertentu perlu diambil untuk memastikan adanya aturan yang tidak ambigius (meragukan) dan ditetapkan secara sistematisdan seragam. Teknik demikian bermanfaat dalam hal dapat membangun atas dasar pengetahuan yang muncul.

Bagi paradigma alamiah, desain dapat disusun sebelumnya secara tidak lengkap. Apabila sudah mulai digunakan, maka desain itu lamah mulai dilengkapi dan disempurnakan. Dsain itu dapat senantiasa diubah dengan disesuaikan dengan apa yang diperoleh dan disesuaikan pula dengan pengetahuan baru yang ditemukan.

10. Latar

Pencari-tahu-ilmiah bersandar pada latar laboratorium untuk keperluan mengadakan kontrol, mengelola intervensi, dan sebagainya. Sebaliknya, pencari-tahu-alamiah cenderung mengadakan penelian dalam latar alamiah. Setiap gagasan ilmiah itu dapat dilihat sebagai sisa dari suatu paradigma, parangkat atau asumsi yang eksplisit dan implisit, yang memberikan gaya dan arah.

11. Perlakuan

Bagi paradigma ilmiah, konsep perlakuan sangat penting. Pada setiap eksperimen, perlakuan itu harus stabil dan tidak bervariasi. Jika tidak demikian, maka sekar menentukan pengaruh yang berkaitan dengan suatu penyebab tertentu.

Untuk paradigma alamiah, konsep perlakuan tersebut asing karena perlakuan menyertakan beberapa cara manipulasi atau intervensi. Jika pun hal itu terjadi dengan mempertimbanhgkan terjadinya gejala secara alamiah, maka “perlakuan” itu merupakan penyebab yang dikehendaki untuk beberapa pengaruh yang diamati. Tentu saja mereka tidak mengharapkan adanya stabilitas karena perubahan secara berkesinambungan sebenarnya adalah esensi dari situasi nyata. Barangkali bermanfaat bagi peneliti alamiah untuk menstabilkan sebanyak mungkin situasi ketika inkuiri sedang terjadi. Jadi, bagi peneliti alamiah diperlukan lebih banyak keluwesan.

Pendekatan eksperimental dalam metode ilmiah merupakan suatu kegiatan akti para ilmuwan yang memberi gagasan-gagasan kepada para pekerjanya dalam upaya pengembangan pemehaman lebih mendalam. Kegiatan ini tidak hanya mengacu pada tehnik tertentu dalam pengumpulan data dan analisis seperti eksperimen, tetapi lebih luas pada aktifitas ilmuwan menuju kepada ide-idenya dengan menggunakan pengumpulan data yang dianggap tepat.

12. Satuan Kajian

Satuan kajian bagi paradigma ilmiah adalah variabel dan semua hubungan yang dinyatakan di antara variabel. Sebaliknya, peradigma alamiah berpendirian agar satuan kajian lebih sederhana. Selain itu, mereka lebih menekankan kemurnian sistem pola yang diamati secara alamiah.

13. Unsur-unsur Kontekstual

Peneliti alamiah senantiasa berusaha mengontrol seluruh unsur yang mengganggu yang dapat mengaburkan unsur-unsur itu dari fenomena yang menjadi pusat perhatian atau yang mengacu pada pengaruh terhadap fenomena itu.

Peneliti alamiah bukan hanya tidak tertarik pada kontrol, melainkan malah mengundang adanya ikut campur sehingga mereka secara lebih baik dapat mengerti peristiwa dan dalam dunia nyata dan merasakan pola-pola yang ada di dalamnya. Konsep “mengandung-ikut-campur”, merupakan hal yang sangat penting bagi peneliti alamiah. Biasanya mereka tidak ingin mengetahui bagaimana suatu keutuhan yang telah bekerja secara sangat baik dalam seluruh dunia kemungkinan, tetapi dalam keadaan yang paling jelek sekalipun.

Sumber http://salangketo.blogspot.com/2011/08/catatan-tentang-metode-penelitian-1.html