Kurikulum

Dalam perkembangannya, kurikulum memiliki  berbagai penafsiran yang beragam dari para ahli pendidikan dan lembaga yang bertanggungjawab dalam mengembangkan kurikulum. Menurut BSNP (2006:5), kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa kurikulum mempunyai peran yang sangat strategis dalam pencapaian tujuan pendidikan yang direncanakan. Oleh karena itu, dalam pengembangan kurikulum seharusnya menggambarkan upaya-upaya untuk mempengaruhi anak untuk belajar dalam kondisi apapun. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa :

“The Curriculum is the sum total of school’s effort to influence learning, whether in classroom, on the playground or out of school”. Jadi segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruang kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah termasuk kurikulum”. (Saylor dan Alexander dalam Nasution, 2008:4).

Suatu lembaga pendidikan dalam menyusun kurikulumnya tentunya harus mampu membuat kurikulum yang dapat memberikan gambaran jelas kepada siswa mengenai target akhir yang akan mereka capai dalam pembelajaran di suatu jenjang pendidikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang menyatakan bahwa:

“Kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dengan menempuh suatu kurikulum, siswa dapat memperolah ijazah. Dengan kata lain suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu”. (Hamalik, 2008:16).

Kurikulum dapat dikatakan sebagai sesuatu yang direncanakan sebagai pegangan untuk mencapai tujuan pendidikan. Apa yang direncanakan bisa bersifat ide, suatu cita-cita tentang manusia atau warga negara yang akan dibentuk. Smith et al. (dalam Nasution 2008:8)  memandang kurikulum sebagai rangkaian pengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak jadi dapat disebut potential curriculum. Namun apa yang benar-benar dapat diwujudkan pada anak secara individual, misalnya bahan yang benar-benar diperolehnya disebut actual curriculum.

Selanjutnya Nasution (2008:8) menyampaikan bahwa kurikulum dapat kita tinjau dari segi lain, sehingga kita peroleh penggolongan sebagai berikut :

  1. Kurikulum dapat dilihat sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para pengembang kurikulum biasanya dalam suatu panitia. Hasilnya dituangkan dalam bentuk buku atau pedoman kurikulum yang misalnya berisi sejumlah mata pelajaran yang harus diajarkan.
  2. Kurikulum dapat pula dipandang sebagai program, yakni alat yang dilakukan oleh sekolah untuk mencapai tujuannya. Ini dapat berupa mengajarkan berbagai mata pelajaran tetapi dapat juga meliputi segala kegiatan yang dianggap dapat mempengaruhi perkembangan siswa misalnya perkumpulan sekolah, pertandingan, pramuka, warung sekolah dan lain-lain
  3. Kurikulum dapat pula dipandang sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari siswa yakni pengetahuan, sikap, keterampilan tertentu. Apa yang diharapkan akan dipelajari tidak selalu sama dengan apa yang benar-benar dipelajari.
  4. Kurikulum sebagai pengalaman siswa. Ketiga pandangan di atas berkenaan dengan perencanaan kurikulum sedangkan pandangan ini mengenai apa yang secara aktual menjadi kenyataan pada tiap siswa. Ada kemungkinan bahwa apa yang diwujudkan pada diri anak berbeda dengan apa yang diharapkan menurut rencana.

Dalam pandangan lain, Hamalik (2008:16) memberikan juga tafsiran mengenai kurikulum dengan batasan sebagai berikut :

  1. Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran. Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Mata ajaran (subject matter) dipandang sebagai pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lampau yang telah disusun secara sistematis dan logis. Misalnya berkat pengalaman dan penemuan-penemuan masa lampau, maka diadakan pemilihan dan selanjutnya disusun secara sistematis, artinya menurut urutan tertentu dan logis artinya dapat diterima oleh akal dan pikiran. Mata ajaran tersebut mengisi materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa sehingga memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan yang berguna baginya. Semakin banyak pengalaman dan penemuan-penemuan, maka semakin banyak pula mata ajaran yang harus disusun dalam kurikulum dan harus dipelajari oleh siswa di sekolah
  2. Kurikulum sebagai rencana pembelajaran. Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program itu para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran.

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa guru dalam melaksanakan pembelajaran memerlukan kurikulum dalam menyiapkan langkah-langkah dalam pencapaian tujuan pendidikan baik bagi dirinya maupun bagi siswa dalam mengikuti pembelajaran di suatu jenjang pendidikan. Dalam penggunaanya kurikulum dapat dilihat sebagai;   (1) produk, (2) program, (3) hal yang akan dipelajari siswa, dan                            (4) pengalaman siswa yang memuat isi dan materi pelajaran yang akan dipelajari siswa serta memuat hal-hal yang akan dipergunakan guru dalam membuat perencanaan pembelajarannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s