Want to get your kids into college? Let them play

Want to get your kids into college? Let them play

By Erika Christakis and Nicholas Christakis, Special to CNN
December 29, 2010 — Updated 1257 GMT (2057 HKT)
tzleft_split.jpg
STORY HIGHLIGHTS
  • Erika and Nicholas Christakis says they see students at Harvard who have trouble getting along
  • They say kids better equipped to learn, interact, if taught using play-based curricula
  • “Drill and kill” skill-based learning, requires more social isolation, they say
  • Writers: Play-based learning builds empathy, better self-control, and problem solving skill

Editor’s note: Erika Christakis, MEd, MPH, is an early childhood teacher and former preschool director. Nicholas Christakis, MD, PhD, is a professor of medicine and sociology at Harvard University. Together, they serve as Masters of Pforzheimer House, one of the undergraduate residential houses at Harvard College.

(CNN) — Every day where we work, we see our young students struggling with the transition from home to school. They’re all wonderful kids, but some can’t share easily or listen in a group.

Some have impulse control problems and have trouble keeping their hands to themselves; others don’t always see that actions have consequences; a few suffer terribly from separation anxiety.

We’re not talking about preschool children. These are Harvard undergraduate students whom we teach and advise. They all know how to work, but some of them haven’t learned how to play.

Parents, educators, psychologists, neuroscientists, and politicians generally fall into one of two camps when it comes to preparing very young children for school: play-based or skills-based.

These two kinds of curricula are often pitted against one another as a zero-sum game: If you want to protect your daughter’s childhood, so the argument goes, choose a play-based program; but if you want her to get into Harvard, you’d better make sure you’re brushing up on the ABC flashcards every night before bed.

We think it is quite the reverse. Or, in any case, if you want your child to succeed in college, the play-based curriculum is the way to go.

In fact, we wonder why play is not encouraged in educational periods later in the developmental life of young people — giving kids more practice as they get closer to the ages of our students.

Why do this? One of the best predictors of school success is the ability to control impulses. Children who can control their impulse to be the center of the universe, and — relatedly — who can assume the perspective of another person, are better equipped to learn.

Psychologists calls this the “theory of mind”: the ability to recognize that our own ideas, beliefs, and desires are distinct from those of the people around us. When a four-year-old destroys someone’s carefully constructed block castle or a 20-year-old belligerently monopolizes the class discussion on a routine basis, we might conclude that they are unaware of the feelings of the people around them.

The beauty of a play-based curriculum is that very young children can routinely observe and learn from others’ emotions and experiences. Skills-based curricula, on the other hand, are sometimes derisively known as “drill and kill” programs because most teachers understand that young children can’t learn meaningfully in the social isolation required for such an approach.

How do these approaches look different in a classroom? Preschoolers in both kinds of programs might learn about hibernating squirrels, for example, but in the skills-based program, the child could be asked to fill out a worksheet, counting (or guessing) the number of nuts in a basket and coloring the squirrel’s fur.

In a play-based curriculum, by contrast, a child might hear stories about squirrels and be asked why a squirrel accumulates nuts or has fur. The child might then collaborate with peers in the construction of a squirrel habitat, learning not only about number sense, measurement, and other principles needed for engineering, but also about how to listen to, and express, ideas.

The child filling out the worksheet is engaged in a more one-dimensional task, but the child in the play-based program interacts meaningfully with peers, materials, and ideas.

Programs centered around constructive, teacher-moderated play are very effective. For instance, one randomized, controlled trial had 4- and 5-year-olds engage in make-believe play with adults and found substantial and durable gains in the ability of children to show self-control and to delay gratification. Countless other studies support the association between dramatic play and self-regulation.

Through play, children learn to take turns, delay gratification, negotiate conflicts, solve problems, share goals, acquire flexibility, and live with disappointment. By allowing children to imagine walking in another person’s shoes, imaginative play also seeds the development of empathy, a key ingredient for intellectual and social-emotional success.

The real “readiness” skills that make for an academically successful kindergartener or college student have as much to do with emotional intelligence as they do with academic preparation. Kindergartners need to know not just sight words and lower case letters, but how to search for meaning. The same is true of 18-year-olds.

As admissions officers at selective colleges like to say, an entire freshman class could be filled with students with perfect grades and test scores. But academic achievement in college requires readiness skills that transcend mere book learning. It requires the ability to engage actively with people and ideas. In short, it requires a deep connection with the world.

For a five year-old, this connection begins and ends with the creating, questioning, imitating, dreaming, and sharing that characterize play. When we deny young children play, we are denying them the right to understand the world. By the time they get to college, we will have denied them the opportunity to fix the world too.

The opinions expressed in this commentary are solely those of Erika and Nicholas Christakis.

Iklan

Mari Sambut Kehadiran Teknologi NFC

Mari Sambut Kehadiran Teknologi NFC
Website Kompas

Jumat, 28 Januari 2011 | 12:01 WIB

Google Nexus S merupakan smartphone kedua rancangan Google setelah Nexus One. Ponsel ini telah dilengkapi chip NFC.

KOMPAS.com – Kalau kita lihat sejarah transaksi pembayaran, awalnya dulu sebelum ada kemudahan elektronika seseorang harus mengambil uang dahulu ke bank dengan mengantre di loket sehingga sebaiknya mengambil uang untuk pemakaian selama jangka waktu tertentu mengingat usaha yang lumayan untuk mengambil sejumlah uang. Dengan adanya anjungan tunai mandiri (ATM), di mana-mana usaha untuk mengambil uang menjadi ringan sehingga seseorang cukup mengambil uang untuk jangka waktu pendek. Selain itu ATM mengurangi resiko pemegang uang dari kejahatan pencurian/perampokan/dan lain-lain karena uang yang diambil biasanya lebih sedikit jika dibandingkan dengan mengambil uang di loket bank.

Dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK), munculah alat pembayaran baru elektronika yang menjadi popular di Indonesia seperti kartu kredit dan kartu debit. Kedua jenis pembayaran tersebut menggunakan kartu pintar yang digosokkan ke terminal pembayaran di toko-toko ketika membayar. Kartu pintar dapat menggantikan uang fisik yang biasanya disimpan di dompet sehingga pengguna kartu pintar dapat terhindar dari tindak kejahatan dan juga pengguna mendapatkan kemudahan, yaitu tidak perlu mengambil uang ke bank atau ATM dan menyimpan di dompet.

Tentunya sistem pembayaran dengan kartu pintar tersebut harus memiliki sistem keamanan yang menjamin uang pengguna tidak diambil oleh pihak yang tidak berhak dan juga tidak ada pihak yang mengklaim pembayaran yang tidak pernah dilakukan pengguna. Tanpa adanya penjaminan sistem keamanan pada sistem pembayaran dengan kartu pintar, pengguna tidak akan berminat untuk menggunakannya.

Pada saat ini, selain dompet wajib hukumnya membawa handphone dalam berpergian. Ini memberikan ide bagi inovator untuk menggabungkan dompet dan handphone. Sudah ada layanan inovatif dari mobile provider untuk melakukan pembayaran menggunakan SMS maupun mobile web. Sebuah konsorsium dari produsen-produsen raksasa handphone di dunia akhirnya bekerja sama untuk membuat produk baru untuk menggabungkan dompet dengan handphone dengan nama Near Field Communications (NFC).

Sebenarnya NFC adalah pengembangan dari teknologi kartu Radio Frequency Identification (RFID). RFID ini memiliki bentuk dan fungsi yang sama seperti kartu ATM bedanya adalah kartu RFID tidak perlu digosok (contactless) sehingga kartu RFID tidak perlu dikeluarkan dari dompet dalam proses pembayaran, pengguna cukup mendekatkan dompetnya ke terminal pembayaran atau disebut reader. Di Indonesia, kartu RFID sudah banyak digunakan, contohnya: e-Toll untuk pembayaran otomatis gerbang tol, gelang (RFID tag, bukan berbentuk kartu) yang digunakan sebagai pengganti tiket di taman-taman hiburan.

Teknologi NFC pada handphone selangkah lebih maju daripada teknologi RFID di mana pada handphone ditanamkan NFC chip yang dapat bertindak sebagai kartu RFID dan juga sebagai reader sekaligus dengan radius jangkauan pendek (kurang dari 10 cm). Teknologi NFC pada handphone betul-betul dapat menggantikan dompet di mana dapat mengeluarkan uang dan juga menerima uang dari dan ke sesama pengguna NFC. Selain untuk pembayaran teknologi NFC dapat digunakan sebagai pengganti KTP, SIM, kartu mahasiswa, dan lain-lain, kartu absen, dan lain-lain.

Direncanakan tahun 2011 ini akan muncul berbagai produk handphone ternama yang dilengkapi teknologi NFC. Produk handphone pertama dengan teknologi NFC yang sudah dipasarkan di Eropa dan Amerika adalah Samsung Nexus S, dilengkai NFC controller chip produk NXP (Philips) yaitu PN544. Philips adalah produsen ternama untuk kartu RFID. Samsung Nexus S menggunakan sistem operasi Android versi Gingerbread yang didukung oleh Google. Google sendiri sudah mempersiapkan berbagai aplikasi untuk teknologi NFC pada handphone.

Banyak lelucon tentang mesin cetak yang bekerja keras 24 jam penuh untuk memproduksi jumlah uang yang sangat banyak untuk mendanai pengeluaran yang sangat besar. Namun di sisi lain, penggunaan uang tunai secara fisik sedang menurun di seluruh dunia, karena pembayaran non-tunai sedang meningkat popularitasnya. Meskipun menurut para ekonom jumlah uang meningkat, jumlah uang kertas yang disimpan orang di dompet cenderung menurun. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah transaksi kartu kredit dan debit di seluruh dunia. Para analis meramalkan bahwa tiga wilayah teratas dalam pembayaran mobile adalah Timur Jauh termasuk Cina, Eropa Barat dan Amerika Serikat, yang secara keseluruhan akan menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar pembayaran mobile dalam basis transaksi kotor di tahun 2013.

Kami dari NFC Research Group di School of Electrical Engineering & Informatics, Institut Teknologi Bandung sedang giat-giatnya melakukan penelitian untuk membangun Sistem Transaksi Menggunakan Mobile Phone dan Teknologi NFC dengan bantuan dana dari Program Insentif, Kementrian Negara Riset dan Teknologi. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan sistem transaksi dengan teknologi NFC pada handphone untuk micropayment (pembayaran dengan jumlah kecil, contohnya: angkot, warung, kantin, dan lain-lain) dan macropayment (pembayaran dengan jumlah lebih besar, contohnya: supermarket, minimarket, restoran, berbagai toko, dan lain-lain).

Sistem transaksi ini haruslah sangat aman untuk pengguna, penjual, dan industri keuangan sehingga uang pengguna tidak dapat berkurang/bertambah tidak semestinya; penjual mendapatkan uang pembayarannya yang seharusnya; dan industri keuangan tidak kehilangan uangnya dan tidak harus membayar yang tidak semestinya. Mari sambut kehadiran teknologi NFC untuk kemakmuran bersama.(KOMPASIANA/Emir Husni)

Website BATIK

Sambutan Bapak Dr.Ir.Gatot Hari Priowirjanto -Direktur SEAMEO-SEAMOLEC

GHPSelamat datang di website BATIK (Bahasa Indonesia degan Teknologi Informasi dan Komunikasi). Website ini menyediakan konten Bahasa Indonesia sebagai bentuk kepedulian SEAMOLEC terhadap pendidikan Bahasa Indonesia secara online dan jarak jauh. SEAMOLEC atau singkatan dari “Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre” adalah organisasi para mentri pendidikan se-Asia Tenggara yang bergerak di bidang PTJJ (Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh).

Dalam melaksanakan program pendidikan terbuka dan jarak jauh, SEAMOLEC melakukan berbagaimacam riset, inovasi dan selalu mengupdate teknologi terbaru sesuai dengan perkembangan zaman untuk menunjang sistim pendidikan dan penyajian konten atau materi. Dengan demikian, pertukaran informasi makin cepat, penyajian materi lebih mudah dan dapat diakses oleh semua masyarakat di dunia.

Kami berharap dengan kehadiran website ini, Anda akan mudah memahami dan mempelajari Bahasa Indonesia dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi.

http://batik.seamolec.org/elearning/

Beberapa Minggu Lagi, Alamat Internet Habis

Beberapa Minggu Lagi, Alamat Internet Habis
Laporan: Kompas.com

ilustrasi

Selasa, 25 Januari 2011 | 22:51 WITA

TRIBUN-TIMUR.COM – Alamat Internet akan habis dalam beberapa minggu, menurut salah satu penemu Internet pekan lalu. Alamat Internet yang dimaksud adalah alamat protokol Internet (IP address).

Vint Cerf, yang turut mendesain alamat protokol Internet tersebut, mengatakan kalau Internet saat ini hanya dapat menampung 4,3 miliar alamat. Cerf menyebutkan kalau alamat ini akan terpakai seluruhnya dalam beberapa minggu ke depan.

Cerf mengakui kalau pada saat mendesain alamat internet protokol, ia tidak menyangka jumlah 4,3 miliar tidak cukup.

“Ini ‘kesalahan’ kami, para pendesain. Kami pikir Internet adalah sebuah eksperimen dan untuk eksperimen kami kira jumlah 4,3 miliar saja sudah cukup.” kata Cerf yang juga wakil presiden Google dalam sebuah wawancara.

Cerf membuat protokol IPv4, versi protokol yang sekarang ini menghubungkan komputer-komputer ke Internet di seluruh dunia, pada tahun 1977 sebagai bagian dari sebuah eksperimen saat bekerja untuk Department of Defense. Pada tahun 1981, IPv4 beroprasi penuh.

Alamat protokol Internet berupa urutan angka-angka. Angka-angka itu unik pada setiap komputer atau perangkat lain–termasuk ponsel dan perangkat bergerak lainnya–yang terhubung ke internet. Peningkatan jumlah perangkat yang terhubung ke Internet inilah yang menyebabkan percepatan habisnya alamat protokol. Bukan hanya komputer dan ponsel, televisi yang terhubung ke Internet pun mulai tersedia di beberapa negara.

Alamat protokol Internet ini berbeda dengan alamat situs web. Alamat situs web dikenal dengan “nama domain”.

Untuk mengatasi krisis ini, protokol baru IPv6 sedang dipersiapkan. Alamat IP baru ini dapat menciptakan triliunan alamat internet. Saat ini, IPv6 sudah dapat bekerja di semua sistem operasi besar meskipun belum seluas IPv4.(*)

Moðvenpick Hotel & Resort Al Bida’a

Dear All,

Greetings from our client in kuwait, they are in need for the following positions
– Cooks :  female/male : salary from KD 80-90
– Commis II :  female/male : salary from KD 110-120
– Commis I : female/male : salary from KD 120-140
– Pastry commis I :  female/male : salary from KD 120-140
– Waiters/waitress  :  salary from KD 90
– Housekeeping cleaners :  female/male : salary KD 80

The hotel offers free accommodation, transportation, medical and life  insurance, 3 meals per day, uniform as well as tickets every 2 years to  the point of hire.

Please email your cv to: info@sourcinghost.com

Best Regards,
——————————————-
Moðvenpick Hotel & Resort Al Bida’a
P.O. Box 7306 Salmiya 22084
Kuwait
Web: http://www.moevenpick-albidaa-kuwait.com

Executive Housekeeper by a Five Stars Hotel Group in Doha-Qatar

URGENTLY NEEDED EXECUTIVE HOUSEKEEPER BY A FIVE STARS HOTEL GROUP IN
DOHA QATAR!

Salary offered: WILL BE NEGOTIABLE

Fasilities:
ACCOMMODATION PROVIDED, 3 TIME MEALS , ETC…ETC…

Qualification:
Have been 3 to 5 years experienced as an Executive Housekeeper

Interested
candidates please forward your complete cvs together with photograph to
info@sourcinghost.com

Best Regards,
Arvin

World Tourism Rankings

Sumber : Wikipedia

International tourist arrivals by country of destination 2009

The top ten international destinations in 2009 were:

Rank↓ Country↓ International tourist arrivals
1 France 74.2 million
2 United States 54.9 million
3 Spain 52.2 million
4 China 50.9 million
5 Italy 43.2 million
6 United Kingdom 28.0 million
7 Turkey 25.5 million
8 Germany 24.2 million
9 Malaysia 23.6 million
10 Mexico 21.5 million

International tourist arrivals by country of destination 2008

The top ten international destinations in 2008 were:

Rank↓ Country↓ International tourist arrivals
1 France 79.2 million
2 United States 57.9 million
3 Spain 57.2 million
4 China 53.0 million
5 Italy 42.7 million
6 United Kingdom 30.1 million
7 Ukraine 25.4 million
8 Turkey 25.0 million
9 Germany 24.9 million
10 Mexico 22.6 million

Africa

The top ten African destinations in 2008 were:

Rank↓ Country↓ International tourist arrivals
1 Egypt 12.3 million
2 South Africa 9.6 million
3 Morocco 7.9 million
4 Tunisia 7.0 million
5 Algeria 1.8 million
6 Botswana 1.5 million
7 Uganda 0.84 million
8 Zambia 0.81 million
9 Swaziland 0.754 million
10 Tanzania 0.750 million

International tourist arrivals by country of destination 2007

Out of a global total of 901 million tourists in 2007, the following countries were the 60 most visited:

Rank↓ Country↓ International tourist arrivals
1 France 80.9 million
2 Spain 58.7 million
3 United States 56.0 million
4 China 54.7 million
5 Italy 43.7 million
6 United Kingdom 30.9 million
7 Germany 24.4 million
8 Ukraine 23.1 million
9 Turkey 22.2 million
10 Mexico 21.4 million
11 Malaysia 21.0 million
12 Austria 20.8 million
13 Russia 20.6 million
14 Canada 17.9 million
15 Hong Kong 17.2 million
16 Greece 16.2 million
17 Poland 15.0 million
18 Thailand 14.5 million
19 Macau 12.9 million
20 Portugal 12.3 million
21 Saudi Arabia 11.5 million
22 Netherlands 11.0 million
23 Egypt 10.6 million
24 Croatia 9.3 million
25 South Africa 9.1 million
26 Hungary 8.6 million
27 Switzerland 8.4 million
28 Japan 8.35 million
29 Ireland 8.33 million
30 Singapore 8.0 million
31 Morocco 7.4 million
32 United Arab Emirates 7.1 million (2005)
33 Belgium 7.0 million
34 Tunisia 6.8 million
35 Czech Republic 6.7 million
36 South Korea 6.4 million
37 Australia 5.6 million
38 Indonesia 5.5 million
39 Sweden 5.2 million
40 Bulgaria 5.15 million
41 India 5.08 million
42 Brazil 5.03 million
43 Bahrain 4.9 million
44 Denmark 4.8 million
45 Argentina 4.6 million
46 Norway 4.4 million
47 Vietnam 4.23 million
48 Syria 4.16 million
49 Dominican Republic 3.98 million
50 Taiwan 3.72 million
51 Puerto Rico 3.69 million
52 Finland 3.5 million
53 Jordan 3.4 million
54 Philippines 3.1 million
55 Cyprus 2.7 million
56 Chile 2.5 million
57 New Zealand 2.47 million
58 Andorra 2.2 million
59 Cuba 2.12 million
60 Israel 2.07 million