Isu Sentral 1: Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Inpres No. 1 tahun 2010)

MUSTAFA
Guru SMK Negeri 4 Makassar
=================================

Pandangan Pribadi

Dalam pandangan pribadi, saya dapat mengungkapkan disini bahwa kebijakan mengenai pendidikan karakter yang diamanahkan oleh Inpres No. 1 tahun 2010 sudah tepat dalam upaya melahirkan siswa didik yang berkarakter. Saya melihatnya bahwa kebijakan ini sebenarnya bukan suatu hal baru namun upaya mempertegas dan memperjelas arah pengembangan pendidikan kita dan merupakan proaktif pemerintah dalam mengantisipasi permasalahan bangsa kita. Dinyatakan dengan jelas dalam Inpres No. 1 Tahun 2010 pada bagian Prioritas 2: Pendidikan, bahwa hal ini merupakan bagian dari penguatan metodologi dan kurikulum yang diwujudkan dalam tindakan berupa penyempumaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.

Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, di dengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan yang muncul yang diindentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Bagaimana menyikapi kebijakan tersebut?

Menyikapi kebijakan pendidikan karakter, tentunya bukan hal yang mudah. Kita tidak bisa menanggapinya secara reaktif lalu mencari jalan keluar singkat untuk mewujudkannya. Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan moral choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Menurut Annie Sullivan (manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904)”Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”.

Disisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu; guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Sebagaimana diungkapkan Philips bahwa keluarga hendaklah kembali menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang (Philips, 2000). Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996 ; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.

Implementasi yang memungkinkan dilaksanakan di sekolah

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.
Menurut Doni Koesoema dalam artikelnya Kucing Hitam Pendidikan Karakter; pendekatan pendidikan karakter bisa dilakukan melalui berbagai macam cara, seperti melalui mata pelajaran khusus, integrasi pendidikan dalam setiap mata pelajaran, atau pendekatan integral yang mempergunakan ruang-ruang pendidikan yang tersedia dalam keseluruhan dinamika pendidikan di sekolah. Apapapun metodologi yang dipilih, setiap pendekatan pengembangan pendidikan karakter akan memiliki konsekuensi berkaitan dengan kesiapan tenaga guru, prioritas nilai, kesamaan visi antara anggota komunitas sekolah tentang pendidikan karakter, struktur dan sistem pembelajaran, kebijakan sekolah, dll. Lebih lanjut Doni menegaskan pula bahwa pendekatan pendidikan karakter dengan cara memberikan pelajaran khusus, seperti ketika pada masa Orde Baru melalui pelajaran wajib Pendidikan Moral Pancasila, dikhawatirkan akan menjerumuskan pendidikan karakter pada indoktrinasi yang mematikan nalar dan daya kritis siswa.
Lebih lanjut Doni dalam artikelnya pendidikan karakter integral menyatakan bahwa Pendidikan karakter jika ingin efektif dan utuh mesti menyertakan tiga basis desain dalam pemrogramannya. Tanpa tiga basis itu, program pendidikan karakter di sekolah hanya menjadi wacana semata.
Pertama, desain pendidikan karakter berbasis kelas. Desain ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar di dalam kelas. Konteks pendidikan karakter adalah proses relasional komunitas kelas dalam konteks pembelajaran. Relasi guru-pembelajar bukan monolog, melainkan dialog dengan banyak arah sebab komunitas kelas terdiri dari guru dan siswa yang sama-sama berinteraksi dengan materi. Memberikan pemahaman dan pengertian akan keutamaan yang benar terjadi dalam konteks pengajaran ini, termasuk di dalamnya pula adalah ranah noninstruksional, seperti manajemen kelas, konsensus kelas, dan lain-lain, yang membantu terciptanya suasana belajar yang nyaman.
Kedua, desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa. Untuk menanamkan nilai kejujuran tidak cukup hanya dengan memberikan pesan-pesan moral kepada anak didik. Pesan moral ini mesti diperkuat dengan penciptaan kultur kejujuran melalui pembuatan tata peraturan sekolah yang tegas dan konsisten terhadap setiap perilaku ketidakjujuran.
Ketiga, desain pendidikan karakter berbasis komunitas. Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat di luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara, juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. Ketika lembaga negara lemah dalam penegakan hukum, ketika mereka yang bersalah tidak pernah mendapatkan sanksi yang setimpal, negara telah mendidik masyarakatnya untuk menjadi manusia yang tidak menghargai makna tatanan sosial bersama.
Pendidikan karakter hanya akan bisa efektif jika tiga desain pendidikan karakter ini dilaksanakan secara simultan dan sinergis. Tanpanya, pendidikan kita hanya akan bersifat parsial, inkonsisten, dan tidak efektif.
Hal lain mengenai hal ini diungkapkan oleh Nurokhim (dalam artikelnya mengenai membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan) pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Ada beberapa panduan tindakan yang dapat dilakukan, berupa;
• Pemberian penghargaan kepada yang berprestasi
• Hukuman kepada yang melanggar
• Menumbuhsuburkan nilai-nilai yang baik
• Mengecam dan mencegah berlakunya nilai-nilai yang buruk
• Menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter, seperti; pelajaran Agama, Sejarah, Moral Pancasila dan sebagainya.

Kesimpulannya, pendidikan karakter di sekolah sudah sewajarnya direncanakan dengan matang dengan dukungan semua pihak di sekolah dengan menekankan pada pembentukan karakter (terpuji) melalui desain pendidikan yang tepat sesuai dengan kondisi kontekstual masing-masing sekolah.

Makassar, 3 Agustus 2011 pukul 03:50
menjelang sahur hari ke 3 Ramadhan 1432 H

Sumber :
http://pendidikankarakter.org/index.php?news&nid=2 3 Agustus 2011
http://pendidikankarakter.org/index.php?p=4_2 3 Agustus 2011
http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html 3 Agustus 2011
http://www.goodreads.com/story/show/14092.Membangun_Karakter 3Agustus 2011
http://karakterbangkit.blogspot.com/ 3 Agustus 2011

3 thoughts on “Isu Sentral 1: Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Inpres No. 1 tahun 2010)

  1. saya RIdwan Guru SMK Negeri Tinambung Kb. Polman Sulbar.
    Ingin Menjadikan SMK4/Bapak untuk menjadi konsultan pada sertifikasi SMM ISO 9001:2008
    Email ku : Ridwansyaharuddin@yahoo.co.id
    Alamat Sekolah : Jl. Pendidikan No 171 Tinambung
    Telp Sekolah : 0422 21 910
    HP : 081 342 262 033 Kasek
    HP : 0852 5560 9694 Ridwan
    Tolong infonya pa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s