Kuncinya, Cinta Kasih dan Ikhlas Mengajar

http://fajarpendidikan.co.id/kuncinya-cinta-kasih-dan-ikhlas-mengajar/mustafa

Guru SMKN 4 Makassar, Mustafa SST Par MPd, Selasa, 29 April malam itu, tampak bahagia. Matanya bulat berbinar, melihat tumpukan penghargaan yang tak lagi mampu ia pegang. Sembari tersenyum ramah, tanganya sibuk menyalami satu persatu guru yang mengucapkan selamat kepadanya.

“Saya baru saja menjadi Best Of The Best Guruku Panutanku 2014,” katanya sambil memperlihatkan penghargaan itu. “Dan rasanya sangat senang sekali,” ujarnya.

Kebahagiaan Mustafa malam itu seolah melebihi rasa banggangnya saat menjadi guru berprestasi terbaik tingkat SMA/SMK se-Sulawesi Selatan tahun 2009. Guru usaha perjalanan wisata di SMK itu berapi-api menceritakan bagaimana ia bisa menjadi guru terbaik dalam pemilihan Guruku Panutanku 2014 yang diadakan Harian FAJAR, malam itu.

Dua puluh tahun lalu, awal mula hidup Mustafa dia abdikan untuk mencerdaskan generasi bangsa. Ia dengan konsisten memberikan yang terbaik demi murid-muridnya. Pria lulusan S2 Universitas Negeri Makassar 2010 lalu ini punya cara bagaimana agar murid-muridnya mudah memahamai apa yang dia ajarkan.

“Kunci pertama adalah kita harus punya cinta kasih pada siswa. Ikhlas dalam mengajar dan memberikan kebijaksanaan kepada siswa dalam melakukan pembelajaran,” kata Mustafa yang mengaku jatuh cinta dengan profesinya itu. Ia pun tak sungkan membagi tipsnya ini pada orang di sekitarnya.

Mustafa boleh disebut figur guru yang sempurna. Kemampuannya mendidikan dan mengajar telah melahirkan banyak pengakuan. Profesi yang dijalani sejak umur 21 tahun pun jauh dari cela. Suami dari Kasmawati itu adalah satu dari lima guru dan kepala sekolah peraih Anugera Satya Lencana.

Penghargaan yang khusus diberikan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono atas prestasi dan dedikasi luar biasa dalam melaksanakan sebuah tugas dengan profesional. Tanda kehormatan itu didapat Mustafa pada peringatan Hari Guru Nasional 2011 lalu.

“Anugerah Satya Lencana diberikan atas Dharma Bakti Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Pendidikan Formal dan Nonformal dengan masa bakti minimal 8 tahun,” Kenang Mustafa.

Dengan kreativitasnya, sosok ayah dua anak itu banjir penghargaan. Ia dengan rutin mengikut banyak lomba setingkat kota, provinsi sampai nasional dan sedikit banyak membuahkan juara.

Mustafa juga sering mewakili Indonesia mengikuti berbagai pelatihan dan pembinaan di luar negeri. Terhitung sudah tiga negara berbeda pernah ia jejaki. Kemampuan bahasa asingnya sangat baik. Pemenang lomba pidato bahasa Inggris antar guru SMK tingkat nasional ini secara aktif dan pasif menguasai bahasa Jerman, Francis dan Arab.

Sebagai guru, Mustafa menuntut dirinya memberikan yang terbaik dalam perannya mencerdaskan generasi bangsa. Mustafa tidak pernah kehabisan akal menghadapi murid-muridnya yang punya karakter dan kemampuan berbeda.

Ayah dari Ahsan Mustafa ini selalu menggunakan pendekatan personal dalam memahamkan sesuatu. Saat di kelas ia menuntut anak didiknya interaktif. Dengan begitu, katanya, siswa jadi lebih santai dan tidak terbebani saat belajar.

“Cara kita sebagai guru men-transfer dan mendidik siswa itu, bagaimana kita memberdayakan siswa secara lebih baik sehingga mereka tidak hanya menjadi obyek,” katanya.

Nah, lewat motode itu ia menciptakan terobosan baru dalam mengajar. Berbekal kemampuan di dunia teknologi, Finalis Lomba Karya Ilmiah dan Inovasi pembelajaran guru SMK tingkat nasional itu lantas memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dalam mengajar. Ia menamakannya model belajar modern 24 jam non-stop.

Awalnya, Mustafa membuat studen center yang fungsinya sebagai pusat belajar di luar kelas. Dengan memanfaatkan teknologi internet, ia mulai mengajar siswanya dari rumahnya, saat siswanya juga di rumah. Dengan rutin, pemenang desain web ketenagakerjaan nasional tahun 2000 itu meng-upgrade blog yang diberinya nama mustafatope.wordpress.com ini.

Blog itu berisi apa yang diajarkan Mustafa saat di kelas yang dikemas dalam bentuk power poin berbasis media. Siswanya juga bisa menanyakan apa saja di sana. Tentu ini digunakan untuk memudahkan hubungam guru dan siswa di saat jam sekolah usai.

“Anda juga bisa mengaksesnya 24 jam sehari selama 7 hari seminggu, 4 minggu sebulan dan 12 bulan setahun. Siapa pun, di mana pun dan kapan pun dengan gratis,” ujar lelaki 41 tahun itu.

Dua bulan sejak Mustafa mengubah model mengajarnya, hasilnya pun berbuntut kepuasan. Jumlah siswanya yang menguasai kompotensi makin meningkat, tentunya itu turut andil mendokrak prestasi siswa SMKN 4 Makassar.

Jadi Inspirator

“Saya ingin membagikan, menginspirasi dengan praktik-praktik terbaik yang sudah saya lakukan di kelas. Berharap dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain, demi kebaikan generasi bangsa.”

Kalimat itu diutarakan Mustafa sesaat ketika ia dinobatkan sebagai Guruku Panutanku Terbaik 2014 di Hotel Clarion, Makassar, Selasa malam, 29 April. Mustafa dengan keramahan hatinya, menunjukkan jika upaya yang dilakukan atas dasar cinta kasih akan melahirkan kepuasan yang membuatnya bangga memilih guru sebagai profesinya.

“Alhamdulilah, penghargaan ini buat siswa-siswa saya yang sangat mendukung saya selama ini,” ujarnya ramah. “Tentu banyak teman yang lain juga punya praktik yang lain, saya juga ingin belajar dari teman yang lain dan menerapkan pula di sekolah saya. Guna mendukung proses belajar yang efektif dan cocok untuk saat ini,” katanya.

Lewat ide-idenya, ia menumpahkan tiap ilmu yang dimilikinya. Melukis masa depan bangsa. Siswa SMKN 4 Makassar amat beruntung punya sosok Mustafa. Jika semua guru punya pandangan dan visi seperti dia, tak perlu lagi sistem pendidikan diubah dari tahun ke tahun dilakukan, tapi cara mendidiknya yang harus diubah. (*)

Naskan : Kasman

Foto : Firmayusi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: