Informasi Spektrum SMK

Informasi Spektrum SMK

Sumber : Website Dit PSMK-Kemendiknas

Keputusan Spektrum.ppt
Lampiran SK Dirjen SPEKTRUM.doc
SK Dirjen SPEKTRUM 2008.doc
Iklan

Kompetensi Pelaksana Kurikulum

Implementasi KTSP menuntut semua orang yang terlibat di dalamnya baik di pusat maupun di daerah, khususnya guru dan kepala sekolah sebagai ujung tombak pembelajaran.

Guru merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam perubahan kurikulum dan implementasinya dalam pembelajaran. Sebaik apapun sebuah kurikulum dirancang jika tidak ditunjang oleh pemahaman dan kompetensi guru maka dalam implementasinya di sekolah akan menemukan kegagalan. Untuk menyukseskan implementasi KTSP perlu ditunjang oleh guru yang berkualitas, yang mampu menganalisis, menafsirkan dan mengaktualisasikan pesan-pesan kurikulum ke dalam pribadi peserta didik.

Kepala sekolah sebagai pendidik, manajer administrasi, penyelia, pemimpin, dan pemberi semangat bagi para guru dan tenaga kependidikan lainnya di sekolah sehingga mereka mampu membangun tim yang kompak dan transparan dalam upaya memajukan sekolah dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Ada beberapa hal yang harus dipahami oleh guru dan kepala sekolah sebagai pelaksana kurikulum di sekolah sebagai bentuk kemandirian mereka. Dari pendapat Mulyasa (2008:47-50) dapat disimpulkan hal-hal tersebut meliputi; pemahaman mengenai struktur KTSP, kemampuan melakukan analisis SWOT, menjabarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, mengembangkan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

Dalam hal itu, implementasi KTPS dalam pembelajaran menuntut guru dan kepala sekolah untuk memperhatikan tiga komponen utama sebagai berikut:

a.    Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang tertuang dalam PP 19 tahun 2005 beserta penjabarannya yang tleah ditetapkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas)

b.    Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dikembangkan harus merumuskan secara jelas program pembelajaran, proses pembelajaran serta mekanisme dan kriteria penilaian

c.    RPP perlu dikembangkan secara matang untuk menentukan bahwa kegiatan pembelajaran sudah siap dilaksanakan (Mulyasa, 2008:8)

Kompetensi pelaksana kurikulum menjadi hal kunci dalam upaya mensukseskan pencapaian tujuan kurikulum. Dari semua informasi yang dipaparkan sebelumnya, dapat dimaknai bahwa kompetensi pelaksana kurikulum akan menjadi titik utama dalam mengukur sejauhmana KTSP baik dalam Dokumen I maupun Dokumen II dapat mengarahkan proses bisnis di sekolah ke arah tujuan yang dicita-citakan.

Para guru dengan kemampuan dan dedikasi yang dimiliki selama ini menjalankan tugas pokok dan fungsinya dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran di tuntut untuk mengembangkan kemampuannya lebih jauh lagi dari sekedar memamhami   3 (tiga) tugas pokok dan fungsinya ke arah yang lebih jauh dalam memahami bagaimana menterjemahkan SNP dan Permendiknas ke dalam Dokumen I dan II dan mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran sehari-hari di sekolah. Hal ini akan memberikan panduan yang lebih jelas kepada guru dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya yang pada akhirnya mengarahkan kepada pencapaian tujuan kurikulum.

Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Implementasi KTSP pada tingkat satuan pendidikan dihadapkan dengan beragam kondisi. Pada awalnya unsur yang ada di sekolah tentunya akan merasakan adanya tantangan dan tuntutan baru disebabkan oleh pengembangan kurikulum tersebut.

Dalam implementasinya, tentunya guru diharuskan berpikir mengenai apa yang harus dilakukan, apa yang dibutuhkan siswa, bagaimana menyusunnya, bagaimana menggunakannya dan beragam pertanyaan lainnya.

Tentunya di dalam mengimplementasi KTSP di sekolah, semua unsur dituntut untuk mampu menjembatani antara tuntutan kurikulum dengan upaya yang harus dilakukan agar siswa memiliki kompetensi tanpa melupakan karakteristik yang mereka miliki. Menurut  Mulyasa (2008:178) Implementasi KTSP adalah bagaimana menyampaikan pesan-pesan kurikulum kepada peserta didik untuk membentuk kompetensi mereka sesuai dengan karakteristik dan kemampuan masing-masing.

Berdasarkan pengertian tersebut, tugas guru dalam implementasi KTSP adalah bagaimana memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan eksternal sehingga terjadi perubahan perilaku sesuai dengan yang dikemukakan dalam standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL) yang dituangkan ke dalam indikator.

Lebih lanjut Mulyasa (2008:178) menyatakan bahwa implementasi merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Berdasarkan definisi tersebut, implementasi KTSP dapat didefinsikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas pembelajaran sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.

Implementasi kurikulum juga tentunya dapat kita lihat dari sudut pandang upaya untuk mengaktualisasikan kurikulum tertulis dalam bentuk pembelajaran. Dengan demikian kegiatan mengimplementasikan kurikulum merupakan suatu proses penerapan konsep, ide, program atau tatanan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran atau aktivitas-aktivitas baru sehingga terjadi perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah. Dikemukakannya juga bahwa implementasi kurikulum merupakan proses interaksi antara fasilitator sebagai pengembang kurikulum dan peserta didik sebagai subyek belajar.

Dalam buku Curriculum Corporation (2001:6) dinyatakan bahwa: “Menempatkan kurikulum baru dalam sebuah praktik dalam pembelajaran dapat menjadi sebuah bentuk kesempatan pengembangan bagi guru. Melalui penggunaan kurikulum tertentu dengan siswa, kemudian melaporkan apa yang terjadi dan merefleksikan ide-ide baru dan kegiatan yang baru, maka guru dapat mempelajari pola pembelajaran dirinya dan pola pembelajaran siswa”.

Guru sebagai pengembang kurikulum telah diberikan kebebasan sesuai amanah Permendiknas 24 tahun 2006 untuk mengembangkan kurikulumnya berdasarkan standar minimal yang telah ditentukan dalam bentuk Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Tentunya dalam mengimplementasikan KTSP sebagai sebuah bentuk kurikulum yang bernuansa baru membutuhkan waktu, sumber daya dan komitmen untuk melakukan pembaharuan. Hal ini bukan merupakan hal yang mudah namun harus diupayakan oleh semua guru di sekolah.

Memahami uraian di atas dapat dikemukakan bahwa implementasi kurikulum adalah operasionalisasi konsep kurikulum yang masih bersifat potensial (tertulis) menjadi aktual dalam bentuk kegiatan pembelajaran. Dengan demikian implementasi kurikulum merupakan hasil terjemahan guru terhadap kurikulum yang terdiri dari sekumpulan SK dan KD baik yang berdiri sendiri sebagai satu unik kompetensi maupun yang merupakan kualifikasi kompetensi (dua atau lebih unit kompetensi yang membentuk satu jenis kegiatan pekerjaan di dunia usaha dan dunia industri) yang dijabarkan ke dalam silabus dan RPP sebagai rencana tertulis.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

RPP merupakan dokumen yang dipergunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran dalam kelas yang dibinanya.

Menurut Direktorat PSMK (2008:7-13):

“RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus.  Rencana pelaksanaan pembelajaran memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (PP No. 19 Tahun 2005 tentang Stándar Nasional Pendidikan Pasal 20).  Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali  pertemuan atau lebih. Untuk mata pelajaran Kelompok Program Produktif, RPP dapat  mencakup lebih dari satu kompetensi dasar”.

RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).  Kegiatan pembelajaran yang dirancang pada RPP diharapkan dapat mewujudkan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (PP Nomor 19 Tahun 2005 , Pasal 19).

Tujuan penyusunan RPP adalah untuk:

a.    Memberi kesempatan kepada pendidik untuk merencanakan pembelajaran yang interaktif  dan dapat digunakan untuk mengeksplorasi semua potensi kecakapan majemuk (multiple intellegencies) yang dimiliki setiap peserta didik.

b.    Memberi kesempatan bagi pendidik untuk merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta  didik, kemampuan pendidik,  dan fasilitas yang dimiliki sekolah.

c.    Mempermudah pelaksanaan proses pembelajaran.

d.    Mempermudah pelaksanaan evaluasi proses pembelajaran, sebagai input guna perbaikan pada penyusunan RPP selanjutnya (improvement process).

Manfaat

a.    Meningkatkan kemampuan guru  dalam merancang pembelajaran sebagai bagian dari kompetensi paedagogik yang harus dimiliki guru. Hal ini sangat bermanfaat dalam pengembangan pembelajaran.

b.    Proses pembelajaran yang dilakukan akan lebih terarah karena tujuan pembelajaran, materi yang akan diajarkan, metode dan penilaian yang akan digunakan  telah direncanakan  dengan berbagai pertimbangan.

e.    Meningkatkan rasa percaya diri pendidik pada saat pembelajaran, karena seluruh proses sudah direncanakan dengan baik.

1)   Prinsip Pengembangan RPP

RPP disusun berdasarkan rancangan yang terdapat pada silabus atau dengan kata lain RPP merupakan uraian lebih lanjut dari silabus.  Oleh karena itu prinsip pengembangan silabus juga merupakan prinsip pengembangan RPP yaitu:

1.    Ilmiah. Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.

2.    Relevan. Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.

3.    Sistematis. Komponen-komponen RPP saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

4.    Konsisten. Adanya hubungan yang konsisten (taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pembelajaran, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.

5.    Memadai. Cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

6.    Aktual dan kontekstual. Cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

7.    Fleksibel. Keseluruhan komponen RPP dapat mengakomodasi variasi peserta didik serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

8.    Menyeluruh. Materi RPP mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotor) yang akan dicapai untuk  mendukung ketercapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

2) Penyusunan RPP

RPP disusun melalui langkah-langkah berikut:

a)    Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tertuang pada silabus, dengan memperhatikan; (1) keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat pada silabus dan    (2) ruang lingkup SK yang akan disajikan dalam kegiatan pembelajaran.

b)    Menyusun SK ,KD dan indikator sesuai dengan RPP yang akan disusun.  SK,KD dan indikator  sebagai mana  yang terdapat pada silabus.

c)    Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan. Rumusan tujuan pembelajaran lebih rinci dari KD dan Indikator, tetapi  adakalanya rumusan tujuan pembelajaran sama dengan indikator, karena indikator sudah sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi.

d)    Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/ pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran yang terdapat pada silabus.

e)    Menentukan metode pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.  Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir.   Kegiatan awal merupakan kegiatan pembelajaran yang ditujukan un­tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di­lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang­kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Kegiatan  pembelajaran yang disusun dalam silabus, diuraikan pada kegiatan inti. Kegiatan akhir merupakan kegiatan penutup yang dilakukan un­tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran.

f)     Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan.

g)    Menyusun perangkat penilaian meliputi  lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran, dan lain-lain.

3) Komponen dan Format RPP  Isi dengan penjelasan pengisian

1.   Komponen RPP

a.    Identitas.

Identitas rencana pelaksanaan pembelajaran meliputi hal-hal berikut ini: satuan pendidikan, kelas, semester, Kompetensi Keahlian, mata pelajaran, jumlah pertemuan, dan alokasi waktu.  Satuan pendidikan diisi dengan nama SMK;  kelas diisi dengan tingkatan kelas dimana kompetensi akan diajarkan; semester diisi dengan nama semester dimana kompetensi akan diajarkan;  mata pelajaran diisi dengan nama mata pelajaran yang merupakan standar kompetensi;  jumlah pertemuan diisi dengan frekuensi pertemuan untuk RPP yang disusun;  alokasi waktu diisi dengan jumlah total waktu yang dibutuhkan untuk RPP bersangkutan @ 45 menit.

b.    Standar kompetensi

Standar kompetensi (SK) diisi  dengan rumusan SK pada silabus.

c.    Kompetensi dasar

Kompetensi dasar (KD) diisi  dengan rumusan KD silabus.

d.    Indikator pencapaian kompetensi

Indikator diisi dengan rumusan indikator silabus untuk setiap KD.

e.    Tujuan pembelajaran. Dirumuskan dalam bentuk kata kerja operasional yang terukur.  Tujuan pembelajaran  diturunkan dari indikator atau merupakan jabaran lebih rinci dari indikator.

Perumusan tujuan pembelajaran memperhatikan hal-hal berikut:

1) Audience adalah peserta didik;

2) Behaviour merupakan perubahan perilaku peserta  didik yang diharapkan setelah mengikuti pembelajaran;

3) Condition adalah prasyarat dan kondisi yang harus disediakan agar tujuan pembelajaran tercapai;

4) Degree adalah ukuran tingkat atau level kemampuan yang harus dicapai peserta didik.

f.     Materi ajar

Materi ajar RPP merupakan uraian  lebih rinci dari materi pokok pembelajaran silabus.  Materi ajar dapat dirumuskan berdasarkan tujuan pembelajaran, karena  materi ajar harus  dapat mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran.

g.    Metode pembelajaran

Metode pembelajaran dirumuskan berdasarkan metode pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

h.    Kegiatan pembelajaran

1)    Kegiatan awal.  Penjelasan tentang materi yang akan dipelajari, tujuan dan manfaat yang akan diperoleh; pre-test atau hal lain guna mengkondisikan dan menyiapkan peserta didik untuk kegiatan pembelajaran.

2)  Kegiatan inti. Kegiatan inti diisi dengan uraian kegiatan yang lebih rinci dari kegiatan pembelajaran pada silabus.

3)    Kegiatan akhir. Dirumuskan dalam bentuk kegiatan kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.

i.      Alat, Bahan dan Sumber belajar. Diisi dengan seluruh fasilitas belajar yang digunakan dapat berupa antara lain bahan praktik, alat simulasi, bahan ajar dan sebagainya.

j.       Penilaian hasil belajar. Penilaian hasil belajar dapat dirumuskan berdasarkan teknik penilaian hasil belajar yang dikembangkan dan digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Penilaian tersebut dapat berupa tes, observasi, penugasan, dan portofolio.

Pengembangan Silabus

Silabus adalah dokumen yang menjadi bagian dari sebuah KTSP yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Silabus adalah dokumen II dalam sebuah KTSP. Silabus menjadi dasar dalam penyusunan RPP oleh guru dalam tahap perencanaan pembelajarannya.

Menurut Direktorat PSMK (2008:45-55):

“Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian”.

a. Prinsip-prinsip Pengembangan Silabus

1)    Ilmiah. Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

2)    Relevan.Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.

3)    Sistematis. Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

4)    Konsisten. Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.

5)    Memadai. Cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

6)    Aktual dan kontekstual. Cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi dalam dunia usaha dan industri.

7)    Fleksibel. Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

8)    Menyeluruh. Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotor).

b. Langkah-langkah Pengembangan Silabus

Komponen-komponen pengembangan silabus mencakup unsur-unsur di bawah ini (urutan pengembangan silabus disajikan pada diagram alir di bagian akhir uraian mengenai silabus).

1)      Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar

Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Kompetensi Lulusan/SKL (Permendiknas No. 23 Tahun 2006) dengan memperhatikan hal-hal berikut:

a)     urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak selalu harus sesuai dengan urutan yang ada dalam dokumen SKL;

b)     keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;

c)     keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.

2)      Merumuskan indikator

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang diwujudkan dalam bentuk perubahan perilaku yang dapat diukur dan diamati, mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.  Indikator  dapat juga diartikan sebagai tingkat kinerja yang akan didemonstrasikan untuk setiap kompetensi dasar atau sejauh mana setiap uraian dalam kompetensi dasar  dapat tercapai dan terukur.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

Perumusan indikator harus memperhatikan Kompetensi Dasar yang ingin dicapai, sehingga rumusan indikator tidak lebih tinggi dari KD (berdasarkan prinsip taksonomi Bloom).

3)      Penentuan jenis penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik  terhadap suatu unit kompetensi dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.

a)  Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.

b)  Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.

c)  Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan belajar peserta didik.

d)  Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, pembelajaran remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan pembelajaran pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.

e)  Sistem penilaian harus disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan, maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

4)    Mengidentifikasi materi pembelajaran. Mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:

a)  potensi peserta didik;

b)  tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik ;

c)  kebermanfaatan bagi peserta didik;

d)  struktur keilmuan;

e)  aktualitas, kedalaman dan keluasan materi pembelajaran;

f)   relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan, khususnya dunia kerja;

g)  alokasi waktu.

Untuk program produktif,  penyusunan materi pembelajaran memperhatikan indikator (kriteria kinerja) dan lingkup variable/kondisi kinerja yang tertuang dalam Standar Kompetensi Keahlian (SKK) yang dikembangkan oleh asosiasi keahlian, dunia usaha dan industri yang telah mendapatkan persetujuan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

5)      Mengembangkan kegiatan pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar.  Kegiatan pembelajaran yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Kegiatan pembelajaran memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.   Atau dengan kata lain,  pada kegiatan  pembelajaran akan tergambar  bahwa peserta didik tidak hanya akan memperoleh pengalaman belajar tentang substansi yang dipelajari tetapi juga tentang kompetensi generik/kompetensi kunci/soft skill.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:

a)  Kegiatan pembelajaran yang dilakukan disekolah diarahkan dan disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.

b)  Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.

c)  Kegiatan pembelajaran  berpusat pada peserta didik sebagai subjek/student center, sehingga guru lebih berperan sebagai fasilitator.

d)  Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.

e)  Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan kegiatan pembelajaran siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

f)   Praktik Kerja Industri. Praktik Kerja Industri (Prakerin) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan kegiatan pembelajaran mata pelajaran kelompok program produktif.  Kegiatan Prakerin dirancang dan dilaksanakan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

–       Prakerin bertujuan untuk memberikan pengalaman kerja nyata bagi peserta didik dalam pembentukan kompetensi secara utuh dan lebih bermakna, terutama pembentukan sikap (etos) kerja sesuai dengan tuntutan kebutuhan di lapangan kerja.

–       Waktu pelaksanaan praktek kerja industri dialokasikan dari waktu yang tersedia pada mata pelajaran kompetensi kejuruan dengan ketentuan empat jam praktik di industri setara dengan satu jam tatap muka yang terstruktur dalam kurikulum. Hal ini disesuaikan dengan jadual pelaksanaan yang dialokasikan.

–       Kegiatan Prakerin sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran, juga dimanfaatkan sebagai bagian dari penilaian hasil belajar (kompetensi) peserta didik.

–       Ketersediaan sarana dan prasarana/sumber daya  yang dimiliki sekolah untuk mendukung proses pencapaian kompetensi lulusan sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku.

–       Prakerin dapat dilaksanakan secara bertahap untuk setiap standar kompetensi dan atau di blok dalam satuan waktu tertentu, disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing Kompetensi Keahlian dan kondisi tempat Prakerin.

6)      Menentukan alokasi waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.

7)      Menentukan sumber belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek, dan/atau alat/bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

c. Unit Waktu Silabus

1)    Silabus mata pelajaran

Disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Penyusunan silabus dilaksanakan bersama-sama oleh guru yang mengajarkan mata pelajaran yang sama pada tingkat satuan pendidikan untuk satu sekolah atau kelompok sekolah, dengan tetap memperhatikan karakteristik masing-masing sekolah.

2)    Implementasi pembelajaran per semester

Penggalan silabus kelompok program normatif dan adaptif sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Penggalan silabus kelompok program produktif ditetapkan berdasarkan satuan kompetensi sesuai dengan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning).

d. Pengembangan Silabus Berkelanjutan

Dalam implementasinya, silabus dijabarkan menjadi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru. Silabus harus dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan data evaluasi hasil belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran), dan evaluasi rencana pembelajaran.

1)  Komponen dan Format Silabus

a) Komponen Silabus

1.  Identitas. Berisi identitas sekolah, Kompetensi Keahlian, standar kompetensi, mata pelajaran, kelas/semester, durasi pembelajaran, kode kompetensi (khusus untuk kompetensi kejuruan).

2.  Standar kompetensi. Merupakan uraian fungsi dan tugas atau pekerjaan yang mendukung tercapainya kualifikasi peserta didik. Khusus kompetensi kejuruan mengacu kepada SKKD yang dikembangkanoleh Direktorat Pembinaan SMK atau standar kompetensi kerja lain yang berlaku di dunia kerja/industri terkait.

3.  Kode kompetensi. Yang dimaksud dengan kode kompetensi asalah kode standar kompetensi yang merupakan identitas standar kompetensi. Bagi mata pelajaran yang belum memiliki kode standar kompetensi, SMK dapat mengembangkan model kodefikasi sendiri.

4.  Kompetensi dasar. Yang dimaksud dengan kompetensi dasar adalah sejumlah tugas/kemampuan untuk mendukung ketercapaian standar kompetensi dan merupakan aktivitas yang dapat diamati.

5.  Indikator . Indikator merupakan pernyataan yang mengindikasikan ketercapaian kompetensi dasar yang dipersyaratkan, dapat diukur, dan durumuskan dalam kata kerja operasional.

6.  Materi pembelajaran. Merupakan substansi pembelajaran utama yang berfungsi menunjang pencapaian kompetensi dasar, mencakup keseluruhan ranah kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap). Materi pokok/materi pembelajaran dirumuskan mengacu pada indikator pencapaian kompetensi.

7.  Kegiatan pembelajaran. kegiatan fisik dan atau mental yang dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar sesuai dengan indikator. Kegiatan pembelajaran dirancang secara utuh (komprehensif), sistematis dan berpusat pada peserta didik. Kegiatan pembelajaran disusun dengan mengintegrasikan aspek kecakapan hidup/kompetensi kunci (untuk kompetensi kejuruan), keunggulan lokal dan global, serta lingkungan hidup.

8.  Penilaian. Proses membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan indikator pencapaian kompetensi. Metode penilaian yang digunakan dalam bentuk tes dan non tes disesuaikan dengan karakteristik indikator pencapaian kompetensi dan kegiatan pembelajaran yang ditempuh dalam proses pembelajaran.

9.  Alokasi waktu. estimasi jumlah jam pembelajaran yang diperlukan untuk mencapai kompetensi dasar yang dirinci ke dalam jumlah jam pembelajaran untuk tatap muka (teori), praktik di sekolah, dan praktik di industri.

10.      Sumber belajar. Rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Struktur Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut.

1)    Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia

2)    Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian

3)    Kelompok mata pelajaran  ilmu pengetahuan dan teknologi

4)    Kelompok mata pelajaran estetika

5)    Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan

Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam   PP 19/2005 Pasal 7.

Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum.

  1. Mata pelajaran. Mata pelajaran beserta alokasi waktunya berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam SI.
  2. Muatan Lokal. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai menjadi bagian dari mata pelajaran lain dan atau terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal.
  3. Kegiatan Pengembangan Diri. Kegiatan pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi, kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik. Sedangkan untuk kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan kepramukaan, kepemimpinan, dan kelompok ilmiah remaja serta kegiatan lainnya yang dianggap sesuai dengan kondisi sekolah.

Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier. Pengembangan diri untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif, tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran.

  1. Pengaturan Beban Belajar

1)    Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh tingkat satuan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan kategori standar. Beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) dapat digunakan oleh Sekolah Menengah Kejuruan kategori standar. Beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) digunakan oleh Sekolah Menengah Kejuruan kategori mandiri.

2)    Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Pengaturan  alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran dapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, di samping dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulum yang tercantum di dalam Standar Isi.

3)    Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam sistem paket untuk SMK 0%- 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.

4)    Alokasi waktu untuk praktik, dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Hal ini dikenal dengan ketentuan 1:2:4.

§   Alokasi waktu untuk tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk SMK yang menggunakan sistem SKS dengan  mengikuti aturan yang ada berupa; (a) penentuan satu sks pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka, 20 menit kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dan (b) penentuan satu sks pada SMK terdiri atas: 45 menit tatap muka, 25 menit kegiatan terstruktur dan 25 menit kegiatan mandiri tidak terstruktur.

  1. Ketuntasan Belajar. Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal.

f.     Kenaikan Kelas dan Kelulusan. Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait. Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:

1)    menyelesaikan seluruh program pembelajaran;

2)    memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan;

3)    lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan

4)    lulus Ujian Nasional.

  1. Penjurusan. Penjurusan dilakukan pada saat siswa mendaftar sesuai dengan ketentuan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
  2. Pendidikan Kecakapan Hidup

1)    Kurikulum untuk SMK dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional.

2)    Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus.

3)    Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan/atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal.

  1. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global

1)    Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam  aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain, yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik.

2)    Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.

3)    Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dapat merupakan bagian dari semua mata pelajaran dan juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal.

4)    Pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.

  1. Kalender Pendidikan. Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam Standar Isi.

Acuan operasional penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

KTSP disusun dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a)    Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia. Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.

b)    Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik. Pendidikan merupakan proses sistematik untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik yang memungkinkan potensi diri (afektif, kognitif, psikomotor) berkembang secara optimal. Sejalan dengan itu,  kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spritual, dan kinestetik peserta didik.

c)    Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan. Daerah memiliki potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah.

d)    Tuntutan pembangunan daerah dan nasional. Dalam era otonomi dan desentralisasi untuk mewujudkan pendidikan yang otonom dan demokratis perlu memperhatikan keragaman dan mendorong partisipasi masyarakat dengan tetap mengedepankan wawasan nasional.

e)    Tuntutan dunia kerja. Kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja. Hal ini sangat penting terutama bagi satuan pendidikan kejuruan  dan peserta didik yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

f)     Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa masyarakat berbasis pengetahuan di mana IPTEKS sangat berperan sebagai penggerak utama perubahan. Pendidikan harus terus menerus melakukan adaptasi dan penyesuaian perkembangan IPTEKS sehingga tetap relevan dan kontekstual dengan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

g)    Agama. Kurikulum harus dikembangkan untuk mendukung peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia dengan tetap memelihara toleransi dan kerukunan umat beragama. Oleh karena itu, muatan kurikulum semua mata pelajaran harus ikut mendukung pula upaya-upaya dalam hal peningkatan iman, taqwa dan akhlak mulia pada diri siswa.

h)   Dinamika perkembangan global. Pendidikan harus menciptakan kemandirian, baik pada individu maupun bangsa, yang sangat penting ketika dunia digerakkan oleh pasar bebas. Pergaulan antar bangsa yang semakin dekat memerlukan individu yang mandiri dan mampu bersaing serta mempunyai kemampuan untuk hidup berdampingan dengan suku dan bangsa lain.

i)     Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan diarahkan untuk membangun karakter dan wawasan kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting bagi upaya memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Oleh karena itu, kurikulum harus mendorong berkembangnya wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam  wilayah NKRI.

j)       Kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditumbuhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain.

k)     Kesetaraan gender. Kurikulum harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan pula hal-hal yang berhubungan dengan kesetaraan gender.

l)      Karakteristik satuan pendidikan. Pengembangan kurikulum pada satuan pendidikan harus selalu disesuaikan  dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan dengan tidak meninggalkan budaya lokal yang ada.