7 Keluhan yang Tidak Ingin Didengar Bos

Rabu, 13/10/2010 | 20:32 WIB

KOMPAS.com – Sebagian karyawan, Anda tentu akan selalu berhubungan dengan atasan atau bawahan. Di atas atasan Anda, masih ada atasan dengan jabatan yang lebih tinggi lagi. Ketika atasan langsung Anda memberikan tugas yang harus Anda kerjakan, sebenarnya ia pun mendapat tekanan dari atasan yang lebih tinggi tadi untuk mencapai tujuan atau target perusahaan. Nah, karena posisi Anda adalah bawahannya, tidak ada yang bisa Anda lakukan kecuali memenuhi tugas-tugas yang diberikan tersebut.

Tentu, atasan yang baik adalah yang bisa bekerja sama dengan bawahannya. Tidak hanya menyuruh, tetapi juga mengarahkan atau memberikan masukan. Namun, ketika Anda menjadi bawahan, jangan pernah menunjukkan pada atasan bahwa Anda tidak menyukai pekerjaan yang diberikan, atau Anda tidak mampu melakukannya.

 

Berkaitan dengan tugas-tugas dari atasan yang membebani Anda, sebaiknya Anda berstrategi untuk mempertahankan posisi atau reputasi Anda. Kalaupun Anda tidak menyetujui sesuatu, katakan dengan cara yang lebih positif. Menurut Karen Burns, penulis buku The Amazing Adventures of Working Girl: Real-Life Career Advice You Can Actually Use, pada dasarnya ada tujuh kalimat keluhan yang dapat mempengaruhi sudut pandang atasan terhadap kinerja Anda:

 

1. “Ini bukan pekerjaan saya.”Umumnya atasan akan berpikir bahwa apapun yang diperintahkannya kepada Anda, itulah yang menjadi pekerjaan Anda. Namun jika pekerjaan yang diberikan tidak termasuk dalam tugas Anda, cobalah menahan diri untuk tidak mengatakan hal tersebut. Sebaliknya, coba cari tahu mengapa atasan memberikan pekerjaan tersebut kepada Anda. Bisa jadi, atasan punya alasan tersendiri yang masuk akal. Jika Anda merasa tugas tersebut tidak Anda kuasai, atau hanya akan menghabiskan waktu Anda, berikan saran bahwa pekerjaan tersebut akan lebih baik bila dilakukan oleh rekan kerja yang lain. Memang, pada dasarnya atasan dapat memberikan tugas apa saja di luar daftar pekerjaan Anda. Namun, tunjukkan etika yang baik.

 

2. “Itu bukan masalah saya.”Ketika Anda berkata bahwa apa yang sedang terjadi bukan masalah Anda, Anda akan terkesan tidak peduli pada lingkungan. Penolakan tersebut tidak akan membuat orang menyukai Anda, tidak terkecuali atasan Anda. Jika ada masalah, dan Anda tidak tahu apa yang harus dikatakan, lebih baik jangan katakan apapun. Lebih baik Anda berusaha ikut membantu menyelesaikan masalah tersebut. Pada akhirnya, masalah di tempat kerja merupakan masalah semua orang. Tentu saja Anda juga terlibat di dalamnya.

 

3. “Itu bukan salah saya.”Ini juga salah satu kalimat yang harus dihindari. Tahu, kenapa? Karena ketika Anda mengatakan sesuatu itu bukan salah Anda, justru orang lain akan yakin bahwa itu memang salah Anda. Lagipula masalahnya apa, sih? Ada sesuatu yang tidak beres, dan harus diperbaiki. Jalan keluar itulah yang harus dipikirkan, bukan siapa yang salah.

 

4. “Saya tidak bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus.”Hanya karena Anda mengeluh pekerjaan Anda banyak, atasan tidak akan merasa kasihan pada Anda, atau mengurangi pekerjaan Anda. Bahkan, sebaliknya atasan akan berpikir (1) Anda membenci pekerjaan Anda, atau (2) Anda tidak serius dengan pekerjaan Anda. Setiap orang tanpa terkecuali, akan merasa tertekan karena dibebani begitu banyak pekerjaan. Yang bisa Anda lakukan adalah melakukan tugas-tugas itu, satu-persatu.

5. “Kemampuan saya terlalu tinggi untuk pekerjaan ini.”Mungkin Anda benar. Tetapi pada kenyataannya, pekerjaan inilah yang Anda miliki. Anda setuju untuk mengambil pekerjaan tersebut, dan sekarang Anda menyesalinya. Dengan mengeluh terus-menerus, Anda hanya membuat reputasi Anda menjadi buruk. Rekan-rekan kerja yang berada dalam satu tim dengan Anda pun akan kesal mendengar keluhan Anda. Yang paling parah, atasan Anda pasti akan berpikir-pikir lagi untuk mempromosikan Anda.

 

6. “Pekerjaan ini mudah. Setiap orang bisa melakukannya!”Mungkin Anda sedang mencoba mengatakan bahwa Anda begitu pintar, sehingga pekerjaan itu terasa mudah. Tetapi akibatnya, orang lain akan mendapat kesan Anda mengatakan bahwa pekerjaan tersebut tidak bermutu. Nah, tidak ada atasan yang senang mendengar bahwa suatu pekerjaan itu dianggap tidak penting oleh bawahannya. Jika pekerjaan itu memang mudah, seharusnya Anda senang melakukannya. Segera selesaikan pekerjaan itu secepat yang Anda bisa.

 

7. “Pekerjaan itu tidak bisa diselesaikan.”Mengatakan bahwa sesuatu tidak dapat dikerjakan, sama saja menyulut kemarahan atasan Anda. Meskipun tugas itu benar-benar mustahil dikerjakan, katakan Anda akan berusaha menyelesaikannya. Jika tidak, Anda akan terlihat tidak dapat diandalkan. Jangan lupa, atasan tidak menginginkan kata-kata “tidak mungkin”. Segala sesuatu harus “mungkin” baginya. Menemukan masalah yang ada, dan mampu mencari jalan keluarnya, akan menjadi pencapaian Anda.

 

Terakhir, ketika Anda ragu-ragu, ingatlah untuk tetap diam dan tidak menunjukkannya. Cobalah untuk menguraikan masalahnya lebih dulu, dan memikirkan solusinya. Seperti kata pepatah: silence is golden.

M05-10 –  Editor: Dini –  Sumber: Shine

http://female.kompas.com/read/xml/2010/10/13/20320122/7.Keluhan.yang.Tidak.Ingin.Didengar.Bos.-5 

 

Jangan Mau Jadi Karyawan yang Biasa-biasa Saja!

Selasa, 12/10/2010 | 15:26 WIB

KOMPAS.com — Di sebuah perusahaan, sekelompok orang tengah berbangga hati karena proposal proyek yang mereka garap memenangkan tender. Menurut mereka, proposal yang dikerjakan sangat bagus dan menarik. Dalam kondisi seperti ini, siapa sih yang tidak ingin dipuji oleh atasan?

Ketika secara antusias melaporkan kesuksesan mereka kepada pimpinan, sang pimpinan hanya berkomentar bahwa kualitas proposal dan perencanaan yang mereka buat memang telah memenuhi kriteria pelanggan dan kebutuhan pasar. Namun, Pak Direktur lebih lanjut mengatakan bahwa proposal itu tidak istimewa dan belum memenuhi standar dirinya. Tim pembuat proposal lemas. Seketika muncul gerutuan di antara mereka, “Mengapa sih kerja kita tidak dihargai pimpinan?”, “Mengapa pimpinan kita tidak ada puas-puasnya?”.

Dalam situasi ini, seorang manajer berkomentar, menyetujui pendapat pimpinan perusahaan: ”Rasanya kita memang tidak boleh cepat puas dengan standar kerja yang biasa-biasa saja. Standard of excellence kita harus lebih tinggi dari tuntutan perusahaan, atasan, dan pelanggan. Hanya dengan mencanangkan standar tinggi dan mendera diri untuk berkinerja sangat-sangat baik, kita bisa kompetitif.”

 

Kalau direnungkan lagi, kita semua pasti setuju bahwa memang sulit untuk bersaing bila kinerja kita biasa-biasa saja. Kita segera akan dilindas oleh orang yang berkinerja sedikit lebih baik saja. Hanya dengan lari jauh di depan dan berkinerja sangat baik, kita bisa menarik pelanggan tanpa harus “berdarah-darah” berkompetisi dengan yang lain. Dengan berprestasi sedang-sedang saja, bagaimana mungkin kita bisa menciptakan bahasa programming yang canggih? Tanpa standard of excellence yang tinggi, mana mungkin tercipta teknologi I-Mac atau VW Beetle yang bisa bertahan puluhan tahun?

Jika kita tidak memasang standar tinggi dan mendera diri untuk melampaui standar yang ada, bagaimana bisa kita membuat terobosan dalam produk, servis, dan prestasi yang bisa mengharumkan nama bangsa?

 

Anti “biasa-biasa saja” Seorang teman berkomentar, tentu saja semua orang ingin berprestasi prima. Tidak sedikit orang yang berupaya keras untuk mencapai prestasi terbaik. Tantangan kita sebenarnya adalah kinerja yang tidak stabil, alias turun-naik. Disadari ataupun tidak, kita sering kali menoleransi kesalahan, membiarkan kesalahan terjadi berulang kali, dan menganggap bahwa kesalahan adalah hal yang “manusiawi”. Padahal, suatu produk atau jasa baru bisa disebut excellent bila ia sempurna 100 persen. Bagaimana kalau kita menoleransi ada 1 persen saja kejadian malapraktik dalam operasi bedah di rumah sakit? Jika setiap pekan terjadi 500.000 operasi di seluruh dunia, berarti kita menoleransi 5.000 kejadian malapraktik. Bukankah hal ini sangat membahayakan? Itu sebabnya, kita tidak bisa menoleransi kinerja yang tidak konsisten, tidak stabil atau on-off

.

 

Saya merasa surprised saat seorang dokter yang saya kunjungi minggu lalu menelepon dan menanyakan apakah obat yang ia berikan mempan atau tidak? Sikap terkejut dengan standard of excellence orang lain sebetulnya sama dengan sikap kita yang longgar dan cenderung memaafkan diri sendiri terhadap mutu kinerja kita yang tidak sempurna. Bila kita benar-benar ingin menonjol, excellence harus menjadi gaya hidup dan sikap dalam semua aspek hidup kita. Bagaimana kita bisa mencapai ambisi untuk berprestasi prima di bidang olahraga, jika kita tidak merasa bersalah bila menunda waktu latihan? Saat sudah mencapai suatu keberhasilan, bukankah banyak orang yang merasa marah atau kesal bila ia dikritik oleh orang lain? Padahal, excellence adalah mindset dan sikap proaktif, di mana kita tidak cepat puas dengan keberhasilan kita, senantiasa berusaha melakukan kritik diri sebelum dikritik orang lain, dan selalu waspada terhadap berkurangnya mutu kinerja kita. Kita lihat bahwa kesulitan untuk mempertahankan sikap tersebut terutama berada di dalam diri kita sendiri.

 

Berbeda secara signifikanRatusan, bahkan ribuan orang, mengikuti kontes putri kecantikan atau ajang pencarian bakat yang sedang menjamur. Apa yang membuat seorang kontestan terpilih dan mengalahkan kontestan yang lain? Jawabannya hanya satu: excellence! Seorang putri kecantikan sudah pasti tidak bisa sedikit gendut, atau sedikit pendek, atau sedikit bodoh ataupun sedikit tidak berkepribadian. Dia harus memiliki semua komponen dengan ciamik dan dramatik. Barulah ia bisa menonjol dan dibedakan dari pesaingnya.

 

Secara personal maupun profesional, bila kita sudah terbukti berbeda dan memiliki tingkat excellence yang tidak bisa “digoyang”, kita tentu tidak lagi perlu lelah-lelah memasarkan diri. Itulah sebabnya, setiap individu maupun organisasi perlu berpikir dua kali bila di dalam misinya tidak tercantum keinginan untuk mencapai tingkat kinerja yang sangat-sangat baik. Kita perlu memerangi sikap toleransi terhadap kondisi sedang, biasa-biasa, atau mediocre. Tom Peters, seorang ahli manajemen yang sangat berobsesi pada sikap dan keyakinan mengenai excellence, dalam buku terbarunya berjudul The Little BIG Things, mengemukakan, “Excellence is sooo….cool! Let’s punish mediocre success”.

 

Bagaimana memerangi mediocre? Langkah pertama adalah mengidentifikasi kondisi yang baik, tetapi belum bisa diacungi dua jempol. Misalnya, dalam sebuah restoran, pengunjung berkomentar, ”Yah…, lumayan. Makanannya segar, tapi rasanya tidak bisa dibilang spesial.”

Kondisi inilah yang perlu kita anggap sebagai titik awal upaya perbaikan kita. Kita tidak boleh ragu untuk menggeser standar kualitas ke tingkat terbaik, tanpa kompromi. Standar memang diciptakan untuk digeser-geser. Standar memang digunakan untuk meningkatkan kesadaran dan tingkat konsistensi kita. Pribadi atau lembaga yang mengejar standard of excellence biasanya lebih action oriented, dekat dengan pelanggan, tidak birokratis, berjiwa muda, penuh rasa ingin tahu, dan ceria. Jadi, standard ef excellence menjadi bagian dari keseharian dan tidak menciptakan stres.

(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)

Editor: Dini –  Sumber: Kompas Cetak