Media Sosial POJOK KARAKTER sebagai wadah mensosialisasikan Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila

M U S T A F A – Guru SMKN 4 Makassar – Fasilitator Pendidikan Keluarga

 

Pandemi Covid-19 berdampak pada dunia pendidikan dewasa ini. Walaupun demikian, pandemi ini mampu mengakselerasi pendidikan 4.0. Sistem pembelajaran dilakukan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi.[1] Tahun ajaran baru 2020 di tengah pandemi menjadi sebuah tantangan besar bagi pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berbagai kebijakan penyesuaian kurikulum telah dilakukan agar tetap dan terus bisa memberikan pendidikan yang menjadi hak para pelajar. Menurut Hendarman, Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikbud, penyesuaian kebijakan ini merupakan respons terhadap masalah yang dihadapi oleh para guru, orang tua, dan peserta didik. Masalah tersebut di antaranya kesulitan mengelola pembelajaran jarak jauh, guru yang masih cenderung fokus pada penuntasan kurikulum, sulit memenuhi beban jam mengajar dan kesulitan komunikasi dengan orang tua sebagai mitra di rumah. Di lain sisi kesulitan para peserta didik antara lain kurangnya konsentrasi belajar dari rumah, beratnya penugasan soal dari guru, peningkatan rasa stres dan jenuh akibat isolasi berkelanjutan.[2]

Dalam hubungannya dengan upaya memperkuat penanaman karakter bagi peserta didik, terutama agar dapat berhasil di lingkungan kerja masa depan, Kemendikbud telah menetapkan 6 (enam) profil Pelajar Pancasila yang harus ditumbuhkembangkan di antara peserta didik saat ini: (1) berkebinekaan global, (2) bergotong royong, (3) kreatif, (4) bernalar kritis, (5) mandiri, dan (6) beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia.[3]

Setelah mengikuti Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Daring Penguatan Karakter, saya melihat bahwa ada peluang yang dapat dipergunakan dalam kondisi pandemi saat ini. Peluang tersebut sehubungan dengan penggunaan media sosial dalam komunikasi yang terjadi dalam kurun waktu pembelajaran sejak bulan Maret 2020 ini. Hal lainnya adalah komunikasi di grup WhatsApp sekolah yang disampaikan oleh teman-teman guru mengenai tantangan pembelajaran yang dihadapi, utamanya yang berkaitan dengan tingkat antusiasme peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dan kekhawatiran beberapa teman guru mengenai perilaku dan karakter peserta didik.

Dari kenyataan tersebut, saya segera merancang instrumen media sosial “POJOK KARAKTER” menggunakan aplikasi WhatsApp dan Google Form bagi guru dan peserta didik. Instrumen tersebut saya kirimkan ke Grup WhatsApp guru dan peserta didik. Dalam waktu yang tidak terlalu lama saya mendapatkan respon yang sangat menakjubkan bagi saya. Guru dan peserta didik menyampaikan pemahaman mereka mengenai konsep profil pelajar Pancasila dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan singkat yang ada. Pertanyaan tersebut saya hubungkan dengan materi mengenai penguatan karakter profil pelajar Pancasila. Beberapa teman guru dan peserta didik menyampaikan terima kasih telah mendapatkan informasi mengenai konsep tersebut dari Screenshot slide yang saya kirimkan ke Grup WhatsApp.

Dari kegiatan sederhana ini, saya menemukan bahwa penggunaan media sosial dalam mensosialisasikan  konsep Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila di masa pandemi ini dapat menarik antusiasme guru dan peserta didik. Hal ini memungkinkan penyebaran informasi secara cepat dan implementasi dapat dilakukan secara cepat pula. Metode ini mendukung pula efesiensi dan efektivitas dalam menjalankan program sosialisasi.

Semoga hal ini dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman guru dan semua pihak yang ingin melakukan sosialisasi Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila. Mari kita dukung program ini, MERDEKA.

#CerdasBerkarakter, #ArtikelBerkarakter, #DKTPenguatanKarakter


[1] (https://ugm.ac.id/id/berita/19552-membedah-tantangan-pembelajaran-daring-di-tengah-pandemi-covid-19)

[2] https://republika.co.id/berita/qg2mnr415/tantangan-kebijakan-pembelajaran-di-tengah-pandemi

[3] Permendikbud 22 Tahun 2020